Monday, March 20, 2017

Gili - Lombok Trip : Day #4 Kuta, our last day and to say bye~


Wah sudah masuk hari ke empat. Cepat sekali...

Di post sebelumnya saya dan teman seperjalanan sudah nyampe di Kuta, pantai yang tersohor akan 'nyale' atau cacing laut-nya sampai dibikinin event khusus sama pemerintah; Bau Nyale. Tapi pas kami kesana, event itu sudah lewat. Biasanya diadakan tiap bulan Februari dan ribuan orang bisa memadati kawasan pantai Kuta dan pantai Seger yang berada pada satu wilayah garis pantai. Nah karen kami ini turis malas, ya agendanya santai aja. :D cukup berjalan-jalan di sekitar pantai, nonton sunset.




Waktu di Kuta yang kami punya gak sampai 24 jam, agenda utama ya cuma ke pantai doang nongkrong-nongkrong foto. Selebihnya tidak ada. Area kuta yang kami tempati nyaris sepi, bahkan warung pun sepi. Ada sih satu dua tapi walking distance-nya lumayan. Di penginapan tidak tersedia makanan. Pun bsk pagi nya kami gak akan sempat sarapan karena pesawat kami semuanya morning flight; Cisca pukul 6 pagi, saya dan Marisa pukul 8 pagi. Lalu gimana makan malam kami? Untunglah tadi di Mataram sudah dibekali nasi plus lauk pauk sama ibunya Novi (terimakasih tante :') sudah membekali kami), jadi makan malam kami ya bekal itu. Saking banyaknya bekal yang dibungkus, itu cukup sampai buat saya sarapan besok paginya. :D


----

Kamar kami punya dua bed; satu double bed, satu single bed. Jadi gak perlu tidur posisi ikan asin dijemur kaya sebelum-sebelumnya. :D kami leluasa tidur dalam posisi normal. Wkwkwk. Selepas ber-sunset di pantai dan makan malem, mulai lah pertempuran paling sengit dalam sejarah travelling: homecoming packing. :D kami membongkar semua barang bawaan dan memulai re-packing dari nol. Tambahan muatan berupa oleh-oleh cukup jadi konsentrasi utama proses packing kali ini. :D tas pada beranak, bawaan makin banyak. Untungnya saya gak borong oleh-oleh jadi cm beranak satu tas kecil aja isi makanan buat makan di jalan karena saya dan Marisa pulang via Surabaya jadi masih harus menempuh jalan darat sebelum sampai rumah. Sedangkan Cisca via Jogjakarta jadi langsung sampai di rumah.

Malam itu juga kami berhitung ongkos. Hahaha. Sebelum pulang, tuntaskan hutang piutang. Kemarin-kemarin juga gitu, setiap malem kami menyelesaikan urusan administrasi dan finansial. Yang tadi bayar-bayar patungan, kurangnya berapa, kembalian berapa, kami cek semua. Biar gada yang berat sebelah dan jadi hutang. :D termasuk memecah ongkos patungan terakhir, bayar hotel dan mobil menuju bandara. Maka kami malam itu pesan mobil ke pemilik penginapan dan minta diantar pukul setengah 5 pagi.

Paginya, jam 4 kami sudah ready to go. Rela tidurnya sesaat aja dan nerusin tidur di pesawat daripada telat ke bandara. Cisca adalah yang pertama terbang, masuk waiting room duluan. Sedangkan saya dan Marisa masih punya waktu dua jam-an untuk nggelesot di bandara. Nah ini ada drama-nya dikiiiit. Jadi pas Cisca sudah masuk waiting room, dia maunya kami semua masuk dan nunggu di dalam. Padahal counter check-in saya dan Marisa baru bukan satu setengah jam lagi. So kami memutuskan untuk tetap diluar saja. Ealah, ternyata Cisca lupa ambil duit dong buat bayar taksi sampai Jogja. Hahahaha. Rempong lah yang di dalam dan kami yang diluar, eyel-eyelan minta masuk sekarang aja biar bisa hands-on uang taksi sekalian. In short, akhirnya kami nitip uang ke bapak-bapak screening belt. Wkwkwkwk.maaf ya Cisca, kami rada ngeyel.


----

That’s our last time together on this trip. Saya dan Marisa pisah di Terminal Bungurasih menuju rumah masing-masing. Saya masih 8 jam perjalanan sampai rumah dan sepanjang jalan saya tidur dengan sukses karena bangun kepagian. Wkwkwkwk. Untuk ukuran perjalanan yang malas, kami sukses. Yap, sukses bikin orang-orang heran kok bisa tiga cewek ini pergi jalan-jalan ke Lombok dengan begitu malasnya dan (alhamdulillah) murahnya? Jawabannya: ini lah kekuatan kompromi. J


Sampai jumpa di perjalanan malas dan nekat kami selanjutnya. :D 

No comments: