Wah sudah masuk hari ke empat. Cepat sekali...
Di post sebelumnya saya dan teman seperjalanan sudah nyampe di Kuta, pantai yang tersohor akan 'nyale' atau cacing laut-nya sampai dibikinin event khusus sama pemerintah; Bau Nyale. Tapi pas kami kesana, event itu sudah lewat. Biasanya diadakan tiap bulan Februari dan ribuan orang bisa memadati kawasan pantai Kuta dan pantai Seger yang berada pada satu wilayah garis pantai. Nah karen kami ini turis malas, ya agendanya santai aja. :D cukup berjalan-jalan di sekitar pantai, nonton sunset.
Di post sebelumnya saya dan teman seperjalanan sudah nyampe di Kuta, pantai yang tersohor akan 'nyale' atau cacing laut-nya sampai dibikinin event khusus sama pemerintah; Bau Nyale. Tapi pas kami kesana, event itu sudah lewat. Biasanya diadakan tiap bulan Februari dan ribuan orang bisa memadati kawasan pantai Kuta dan pantai Seger yang berada pada satu wilayah garis pantai. Nah karen kami ini turis malas, ya agendanya santai aja. :D cukup berjalan-jalan di sekitar pantai, nonton sunset.
Waktu
di Kuta yang kami punya gak sampai 24 jam, agenda utama ya cuma ke pantai doang
nongkrong-nongkrong foto. Selebihnya tidak ada. Area kuta yang kami tempati
nyaris sepi, bahkan warung pun sepi. Ada sih satu dua tapi walking distance-nya lumayan. Di penginapan tidak tersedia makanan.
Pun bsk pagi nya kami gak akan sempat sarapan karena pesawat kami semuanya
morning flight; Cisca pukul 6 pagi, saya dan Marisa pukul 8 pagi. Lalu gimana
makan malam kami? Untunglah tadi di Mataram sudah dibekali nasi plus lauk pauk
sama ibunya Novi (terimakasih tante :') sudah membekali kami), jadi makan malam kami ya bekal itu. Saking banyaknya bekal
yang dibungkus, itu cukup sampai buat saya sarapan besok paginya. :D
----
Kamar
kami punya dua bed; satu double bed, satu
single bed. Jadi gak perlu tidur posisi ikan asin dijemur kaya
sebelum-sebelumnya. :D kami leluasa tidur dalam posisi normal. Wkwkwk. Selepas
ber-sunset di pantai dan makan malem,
mulai lah pertempuran paling sengit dalam sejarah travelling: homecoming
packing. :D kami membongkar semua barang bawaan dan memulai re-packing dari nol. Tambahan muatan
berupa oleh-oleh cukup jadi konsentrasi utama proses packing kali ini. :D tas
pada beranak, bawaan makin banyak. Untungnya saya gak borong oleh-oleh jadi cm
beranak satu tas kecil aja isi makanan buat makan di jalan karena saya dan
Marisa pulang via Surabaya jadi masih harus menempuh jalan darat sebelum sampai
rumah. Sedangkan Cisca via Jogjakarta jadi langsung sampai di rumah.
Malam
itu juga kami berhitung ongkos. Hahaha. Sebelum pulang, tuntaskan hutang
piutang. Kemarin-kemarin juga gitu, setiap malem kami menyelesaikan urusan
administrasi dan finansial. Yang tadi bayar-bayar patungan, kurangnya berapa,
kembalian berapa, kami cek semua. Biar gada yang berat sebelah dan jadi hutang.
:D termasuk memecah ongkos patungan terakhir, bayar hotel dan mobil menuju
bandara. Maka kami malam itu pesan mobil ke pemilik penginapan dan minta
diantar pukul setengah 5 pagi.
Paginya,
jam 4 kami sudah ready to go. Rela
tidurnya sesaat aja dan nerusin tidur di pesawat daripada telat ke bandara.
Cisca adalah yang pertama terbang, masuk waiting
room duluan. Sedangkan saya dan Marisa masih punya waktu dua jam-an untuk
nggelesot di bandara. Nah ini ada drama-nya dikiiiit. Jadi pas Cisca sudah
masuk waiting room, dia maunya kami
semua masuk dan nunggu di dalam. Padahal counter
check-in saya dan Marisa baru bukan satu setengah jam lagi. So kami
memutuskan untuk tetap diluar saja. Ealah, ternyata Cisca lupa ambil duit dong
buat bayar taksi sampai Jogja. Hahahaha. Rempong lah yang di dalam dan kami
yang diluar, eyel-eyelan minta masuk sekarang aja biar bisa hands-on uang taksi sekalian. In short, akhirnya kami nitip uang ke
bapak-bapak screening belt.
Wkwkwkwk.maaf ya Cisca, kami rada ngeyel.
----
That’s our last time together on this trip. Saya dan Marisa pisah di Terminal Bungurasih menuju
rumah masing-masing. Saya masih 8 jam perjalanan sampai rumah dan sepanjang
jalan saya tidur dengan sukses karena bangun kepagian. Wkwkwkwk. Untuk ukuran
perjalanan yang malas, kami sukses. Yap, sukses bikin orang-orang heran kok
bisa tiga cewek ini pergi jalan-jalan ke Lombok dengan begitu malasnya dan
(alhamdulillah) murahnya? Jawabannya: ini lah kekuatan kompromi. J
Sampai
jumpa di perjalanan malas dan nekat kami selanjutnya. :D

No comments:
Post a Comment