Friday, March 17, 2017

Gili – Lombok Trip : Day #2 Gili Meno, our heart-robber!

sebuah kafe tepi laut

Episode Gili Trawangan diakhiri pukul 4 sore wita ketika kita akhirnya naik ke slow boat menuju Gili selanjutnya; Gili Meno. Setelah Marisa dan Cisca menunggu dalam kelaparan dan mupeng mau makan pop-mie, kelimpungan cari air panas ke minimarket yang ternyata abis dan cuma cukup buat satu pop-mie, masih ngiming-imingin saya yang gak bisa makan pop-mie dan sekawanan nya.

Penyeberangan ke Meno makan waktu sekitar 25-30menit, hampir sama dari Bangsal ke Trawangan. Kenapa lama padahal pulaunya aja keliatan dari Trawangan? Ya karena kudu muter setengah pulau dulu dan pelabuhan Meno ada di sebaliknya pulau yang kita lihat dari Trawangan. Tarifnya pun jauh lebih mahal dari rute Bangsal-Trawangan; 35ribu sekali sebrang. Itu pun jadwalnya cuma dua kali sehari. Rada bengong pas tahu harga tiket slow boat-nya jauh selisihnya sama ke Trawangan. Tapi kita akan tahu kenapa setelah tiba disana.


----

Pertama, kapal ke Meno tidak setiap jam berangkat dan yang ke Meno 90% adalah turis asing. Se kapal kita orang lokalnya banyak tapi yang wisatawan lokal cuma kita bertiga. Lainnya turis asing semua dan rata-rata mereka sudah setengah ‘tanning’ habis berjemur di Trawangan, bawa ransel setinggi badan saya. Begitu sampai Meno, cuma kapal kita saja yang bersandar dan kemudian berangkat lagi ke Bangsal atau balik ke Trawangan. Pelabuhan nya gak se ramai Trawangan.

Kedua, Gili Meno jauh lebih sepi dari Trawangan. So quite. Tenang dan kalem, musik gak berlomba-lomba jebolin spiker. Bener-bener santai dan slow banget atmosfernya. Kita bertiga langsung kompak berseru; ini nih yang kita cari. Berlanjut, jalan kaki mencari lokasi bungalow yang dipesan sebelumnya. Yang ini lumayan jalannya jauh dari pelabuhan. 15menit jalan kaki gontai dengan kondisi jalanan sepi, hotel, losmen dan bungalow gak se-padat di Trawangan. Rasanya kaya di kampung setempat saja, bukan di kawasan wisata.


Tanda wilayah Gili Meno yang ketutupan semak-semak


Sampai akhirnya kita menemukan bungalow kita yang berada tepat di depan sebuah sekolah dasar. Sepanjang mata tengok-tengok, kok cuma ada kebon ya? Di sisi kiri resepsionis nya ada dua kamar. Kita pikirnya bakal menempati salah satunya. Pas nunggu kamar, sambil disuguhin welcome drink es sirup jeruk yang segernya mak nyes, kami ditawari untuk upgrade room. Karena mas-nya lihat kami datang bertiga dan kebetulan ada kamar AC yang kosong untuk sehari, cuma nambah 50rb saja. Pas lihat kamarnya, kita melongo. Mak, ini mah kaya di villa harga sejuta di Bali. Kamar kita berada di tengah-tengah kebon yang tadi kita lihat di sisi kanan resepsionis, berbentuk rumah adat sasak; rumah lumbung.


Es jeruk dan 'bonus' mas bule di belakang... :D


Our crib at Gili Meno
Suddenly, we feel homey. Jatuh hati langsung di pandangan pertama. Kita betah aja gitu di menit pertama nempatin kamar hasil upgrade-an yang pakai nego rada alot ini. Yah walo cuma ditempatin sehari tapi ini lebih dari ekspektasi. Kamar yang semuanya dari kayu, dari lantai sampai dindingnya. Kamar mandinya di belakang gedenya ¾ ukuran kamar kita. Yah walo isinya cuma pancuran, kloset sm wastafel tapi super lebay memang. Saya yang bengong aja menikmati kenyataan kamar kita segini ‘mewah’nya mengingat kita wisatawan kere hore.

Kamar dengan kasur queen size ini lengkap sama kelambu bak kamar orang honeymoon. Lampu dipasang di sudut-sudut kamar jadi suasana kamarnya hangat. Dan lagi-lagi, koneksi internet lancar jaya 24jam. Betah banget dah ini gak kemana-mana, sampai makan malam pun kita cuma ke meal service-nya bungalow saking malesnya nyari ke tepian pulau sana. Lumayan ada menu makanan Indonesia macam nasi goreng, nasi ayam, mie goreng dan semua dalam satu harga; 25ribu. Porsinya? Beneran porsi bule, atau bisa juga dibilang porsi anak kost, menggunung dan kenyang sampai susah gerak. Enak pula. Lengkap lah kebahagiaan kita sebagai turis kere hore ini. :D


Kasur ber-kelambu yang menangkal nyamuk ganas. :D

Ah, seharian ini kita nampaknya habis cuma buat menikmati kamar doang. Seperti yang sebelumnya, kita memang gak punya itinery. Jadilah kami berbenah kamar dan barang sembari diskusi mau kemana, ngapain dan jam berapa aja rencana jalan kita. Mengingat Meno ini super sepi kalo malam dan minim lampu jalan jadi kita putuskan tidak ada agenda keluar di malam hari. Selain memang kita nya juga males jalan malem-malem. Badan rasa rontok semuanya kalau malam, maklum ya wisatawan kere hore kan andalannya cuma kaki ama perut. Kalau kaki capek, perut kosong ya lemas lah kita. :D

Oke deh, cerita soal kegiatan di Meno bakalan di post terpisah saja biar lebih greget dan fokus.


Ciao!

No comments: