Mendarat
di siang hari yang panas dan cuaca terang benderang adalah sebuah pertanda
baik. Baru datang sudah kepanasan, lalu kelaparan. Kita bertiga memutuskan
untuk makan siang di bandara sebelum menyambung perjalanan pakai armada Damri
menuju Senggigi. Yah, kalau makan di bandara memang gak bisa berharap
tinggi-tinggi, asal perut keisi saja lah. Setelah quick lunch, kita langsung keluar bandara dan menuju Damri yang
tiketnya sudah terbeli sebelum makan siang tadi. Ada 3 pilihan stop point Damri
dari bandara Lombok Praya, yaitu ke Senggigi, Mandalika dan Selong. Kita ambil
yg ke arah utara yaitu Senggigi dan makan waktu sekitar dua jam perjalanan.
Dari
Senggigi masih sambung lagi pakai taksi ke Pelabuhan Bangsal buat nyebrang ke
Gili. Tiket Damri 35ribu untuk jarak bandara-Senggigi. Dua jam kami sukses
tidur di bus, tau-tau nyampe drop point Senggigi dan langsung disambut
sopir-sopir travel serta taksi Bluebird. Setelah diskusi bertiga dan nanya
tarif travel serta taksi, kita putuskan ambil taksi Bluebird dengan tarif
130ribu sampai Bangsal. Jarak tempuhnya sekitar satu sampai satu setengah jam
dengan jalan berkelok-kelok naik turun gunung yang bikin saya sukses mual-mual
sampai pelabuhan. :x
Sampai
di Bangsal, kita beli tiket kapal. Ada dua pilihan kapal, yaitu speed boat dan slow boat. Selisih harganya 35ribu untuk speedboat dan 15ribu untuk slowboat.
Langsung pilih slowboat aja karena
kita gak terburu-buru atau ngejar waktu, jadi milih yang murah bin santai.
Belum duduk 5 menit, kapal udah dipanggil untuk berangkat. Ternyata, slowboat gak slow-slow amat jalannya. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke
Trawangan, pulau terbesar di gugusan Gili. Untung lah laut hari itu kalem, jadi
kapal aman dari oleng yang ekstrim. Dan ternyata saya sukses gak mabuk laut!
mengingat tadi sempat mual habis naik taksi sampai pelabuhan, ternyata aman pas
naek slowboat. Im so into the water.
:D
![]() |
| 'nyeker' on the boat. :D |
And, welcome to Gili
Trawangan!
Kaya’ ngimpi nyampe disini, masak sih saya udah di Gili Trawangan? Tadi pagi masih ngantuk di Surabaya, sekarang udah nyeker di pantai. My happiness bar has risen. 10 menit pertama kita bertiga senyum-senyum di tepi pantai, lalu disadarkan kalau harus naruh barang ke penginapan karena sudah menjelang sore. Rencananya sore ini kita bakalan mencari sunset dan sekedar jalan di main road Trawangan. Masih dengan kaki nyeker karena sendal masih di dalam backpack, kita jalan menyusuri gang mencari penginapan yang sudah dipesan sebelumnya.
![]() |
| Gili Trawangan, landed! |
Kaya’ ngimpi nyampe disini, masak sih saya udah di Gili Trawangan? Tadi pagi masih ngantuk di Surabaya, sekarang udah nyeker di pantai. My happiness bar has risen. 10 menit pertama kita bertiga senyum-senyum di tepi pantai, lalu disadarkan kalau harus naruh barang ke penginapan karena sudah menjelang sore. Rencananya sore ini kita bakalan mencari sunset dan sekedar jalan di main road Trawangan. Masih dengan kaki nyeker karena sendal masih di dalam backpack, kita jalan menyusuri gang mencari penginapan yang sudah dipesan sebelumnya.
![]() |
| Berbagai sign penginapan di salah satu gang di Trawangan. |
Hampir 20 menit yang melelahkan mencari penginapan dan akhirnya ketemu, langsung deh bongkar muatan. Kita sekamar bertiga, untung dapat kamar yang kasurnya gede dan Cisca yang paling langsing serta kecil, Marisa yang paling besar sedangkan saya diantara mereka; kecil tapi gemuk. Sepertinya memang kita bertiga ini di-setting pas muat sekasur bertiga. Posisi tidur saya selalu di tengah-tengah, karena yang paling muda harus ngalah sama yang tua-tua. :D urusan bagi kasur kelar, langsung deh kita keliling Trawangan. Sembari nunggu senja, nengokin deretan bar yang 90% isinya turis asing semua. Memang berasa turis di negeri sendiri kalau ini, tapi dari ketiga Gili memang Trawangan jadi pusat keramaian. Gegap gempita setiap malam, penuh orang party kaya gak ada hari esok. :D
Serunya Trawangan adalah banyak banget kafe, bar and resto yang pasang musik bersahut-sahutan. Walopun jalan sendirian, kamu gak akan ngerasa kesepian (yaelah). Kalau urusan makan, kudu pinter-pinter pilih warung deh. Mostly memang menyajikan menu western tapi kalau mau menu Indonesia ya ada cuma kudu cari yang rada masuk gang atau di tengah perkampungan, untuk menghindari shock saat membayar. Saya kemarin sama Cisca beli nasi goreng satu buat berdua, seporsi 25ribu. Yah lumayan ya daripada kelaparan malem-malem. Kembali ke jargon awal; asal perut keisi makanan aja deh.
Penginapan
kita emang lumayan masuk gang tapi deket masjid gede, deket klinik 24jam dan
ada warung juga. Saya lupa harganya semalem berapa tapi gak lebih dari 300ribu
kok kalau gak salah ingat. Cuma ada dipan, lemari kecil, kipas angin dan kamar
mandi dalam. Air buat mandi ya air laut, gurih bener kalau mandi siang-siang,
air nya anget asin pula. Berasa mandi pake kuah bakso (tinggal tambahin bawang
putih sama merica). Sama halnya dengan makan, mandi selama di Gili adalah; yang
penting kesiram air aja deh. Bersih dan seger nya nanti aja kalau udah balik
bisa mandi bersih dan seger. :D
![]() |
| Masjid besar di ujung gang penginapan kami. |
Kadang
mandi itu cuma peluruh lelah aja kalau capek keliling pulau atau motret di
pantai, selebihnya jangan dipikir. Tidur pun dikeroyok nyamuk, bonus keringetan
pula. Rasanya cuma pengen cepet pagi lalu ke pantai nongkrongin sunrise. That was my favorite all the time. Bangun pagi sepagi yang kita
bisa, lalu jalan ke pantai yang masih gelap dan sepi. Yep, Trawangan di waktu
subuh bener-bener tenang. Lengang jalanan dan musik udah mati, menyisakan
bule-bule ketiduran di tepi pantai sisa pesta semalam. Tinggal kita nongkrong
aja di tepi pantai menikmati ketenangan dan menantikan sunrise yang selalu
menakjubkan.
Kira-kira
begitu lah kita menghabiskan waktu di hari pertama sampai Trawangan. Gada
kegiatan seru yang aneh-aneh karena agenda utama kemari adalah menikmati hari
dan suasana. Pokoknya santai aja.
Okay, will update about our next day in following post.
See you!








No comments:
Post a Comment