Monday, March 20, 2017

Gili - Lombok Trip : Day #4 Kuta, our last day and to say bye~


Wah sudah masuk hari ke empat. Cepat sekali...

Di post sebelumnya saya dan teman seperjalanan sudah nyampe di Kuta, pantai yang tersohor akan 'nyale' atau cacing laut-nya sampai dibikinin event khusus sama pemerintah; Bau Nyale. Tapi pas kami kesana, event itu sudah lewat. Biasanya diadakan tiap bulan Februari dan ribuan orang bisa memadati kawasan pantai Kuta dan pantai Seger yang berada pada satu wilayah garis pantai. Nah karen kami ini turis malas, ya agendanya santai aja. :D cukup berjalan-jalan di sekitar pantai, nonton sunset.




Waktu di Kuta yang kami punya gak sampai 24 jam, agenda utama ya cuma ke pantai doang nongkrong-nongkrong foto. Selebihnya tidak ada. Area kuta yang kami tempati nyaris sepi, bahkan warung pun sepi. Ada sih satu dua tapi walking distance-nya lumayan. Di penginapan tidak tersedia makanan. Pun bsk pagi nya kami gak akan sempat sarapan karena pesawat kami semuanya morning flight; Cisca pukul 6 pagi, saya dan Marisa pukul 8 pagi. Lalu gimana makan malam kami? Untunglah tadi di Mataram sudah dibekali nasi plus lauk pauk sama ibunya Novi (terimakasih tante :') sudah membekali kami), jadi makan malam kami ya bekal itu. Saking banyaknya bekal yang dibungkus, itu cukup sampai buat saya sarapan besok paginya. :D


----

Kamar kami punya dua bed; satu double bed, satu single bed. Jadi gak perlu tidur posisi ikan asin dijemur kaya sebelum-sebelumnya. :D kami leluasa tidur dalam posisi normal. Wkwkwk. Selepas ber-sunset di pantai dan makan malem, mulai lah pertempuran paling sengit dalam sejarah travelling: homecoming packing. :D kami membongkar semua barang bawaan dan memulai re-packing dari nol. Tambahan muatan berupa oleh-oleh cukup jadi konsentrasi utama proses packing kali ini. :D tas pada beranak, bawaan makin banyak. Untungnya saya gak borong oleh-oleh jadi cm beranak satu tas kecil aja isi makanan buat makan di jalan karena saya dan Marisa pulang via Surabaya jadi masih harus menempuh jalan darat sebelum sampai rumah. Sedangkan Cisca via Jogjakarta jadi langsung sampai di rumah.

Malam itu juga kami berhitung ongkos. Hahaha. Sebelum pulang, tuntaskan hutang piutang. Kemarin-kemarin juga gitu, setiap malem kami menyelesaikan urusan administrasi dan finansial. Yang tadi bayar-bayar patungan, kurangnya berapa, kembalian berapa, kami cek semua. Biar gada yang berat sebelah dan jadi hutang. :D termasuk memecah ongkos patungan terakhir, bayar hotel dan mobil menuju bandara. Maka kami malam itu pesan mobil ke pemilik penginapan dan minta diantar pukul setengah 5 pagi.

Paginya, jam 4 kami sudah ready to go. Rela tidurnya sesaat aja dan nerusin tidur di pesawat daripada telat ke bandara. Cisca adalah yang pertama terbang, masuk waiting room duluan. Sedangkan saya dan Marisa masih punya waktu dua jam-an untuk nggelesot di bandara. Nah ini ada drama-nya dikiiiit. Jadi pas Cisca sudah masuk waiting room, dia maunya kami semua masuk dan nunggu di dalam. Padahal counter check-in saya dan Marisa baru bukan satu setengah jam lagi. So kami memutuskan untuk tetap diluar saja. Ealah, ternyata Cisca lupa ambil duit dong buat bayar taksi sampai Jogja. Hahahaha. Rempong lah yang di dalam dan kami yang diluar, eyel-eyelan minta masuk sekarang aja biar bisa hands-on uang taksi sekalian. In short, akhirnya kami nitip uang ke bapak-bapak screening belt. Wkwkwkwk.maaf ya Cisca, kami rada ngeyel.


----

That’s our last time together on this trip. Saya dan Marisa pisah di Terminal Bungurasih menuju rumah masing-masing. Saya masih 8 jam perjalanan sampai rumah dan sepanjang jalan saya tidur dengan sukses karena bangun kepagian. Wkwkwkwk. Untuk ukuran perjalanan yang malas, kami sukses. Yap, sukses bikin orang-orang heran kok bisa tiga cewek ini pergi jalan-jalan ke Lombok dengan begitu malasnya dan (alhamdulillah) murahnya? Jawabannya: ini lah kekuatan kompromi. J


Sampai jumpa di perjalanan malas dan nekat kami selanjutnya. :D 

Sunday, March 19, 2017

Gili - Lombok Trip : Day #3 Bye Meno, hello Mataram. Money-runners!


Jam 7 pagi kami sudah all set, ready and go. Ya karena dua teman saya kalo urusan waktu memang kenceng kaya karet beha baru beli. :D jam 4 udah krusek-krusek, mandi dan mondar-mandir. Sebagai anggota termuda dan bermasalah dengan bangun pagi, saya merasa terbantu. :D jadilah kami pukul 7 sudah duduk manis di lobi, ngadep sarapan dan menikmati makan pagi dengan cantik. Sejam cukup lah buat sarapan sambil membahas next route kami nanti. Rencananya, kami bakal beli oleh-oleh dan mampir ke Desa Adat Sade karena sudah di-cek dari peta kalo jalurnya searah menuju Kuta. Jadi perkiraan ke Kuta nyampe sebelum sunset, nginep semalem dan pagi buta balik ke bandara.




Kelar sarapan dan check-out, kami nunggu kapal di dekat dermaga Meno. Sambil ngemil kripik singkong, duduk ngadep pantai dengan air warna biru terang, kami sedikit overwhelming. :D tetap terdengar celetukan, “gila ya kita, tahu-tahu udah disini aja. Udah mau balik aja. Gila.” Memang lah perjalanan ini gila, tapi gak gila-gila amat kok tokh masih inget pulang. :D ketika kapal merapat, maka giliran kami menyebrang dan say goodbye sama Meno. Sampai di Bangsal cuma 15 menit-an dan turun-turun dikeroyok sopir rentalan. Hahahaha. No panic, guys. Kami bertiga mencar, jalan sendiri-sendiri menuju tempat yang lebih lengang. Pas di samping parkiran mobil rentalan. Nanya-nanya harga, karena gak nemu taksi (ya memang gak ada kali, sis) akhirnya nego sewa mobil. Dapet di harga under 500k bisa keliling Mataram bablas ke Kuta for a day. Lumayan sih dipikir-pikir buat bertiga udah ga mikirin ganti moda transportasi buat sehari.



















Off we go! Pertamanya kami ke sentra kain tenun khas Lombok di daerah Pujut atau Pemenang, masih deket dermaga Bangsal. Memang rutenya begitu, menuju Mataram bisa lewat desa-desa tenun sekaligus mampir. Kelar dari sentra kain tenun, beli oleh-oleh lainnya. Dodol rumput laut, aneka kain serta baju. Saya cuma beli dikit karena emang ga niatan beli oleh-oleh. Ahahaha. Kelar ke sentra oleh-oleh, kami mampir ke rumah orangtua-nya sahabat saya, Novi. Yah sekalian bertamu mumpung sudah sampai Mataram. Dijamu makan siang segala, lengkap. Alhamdulillah rejeki turis kere hore. :D Tadinya kami niatan mau wisata kuliner di Mataram ee ternyata kebanyakan tempat tujuan kami baru buka nanti sore. :D keburu lapar dan keburu jalan ke Kuta, maka kami ambil jalan aman dengan menerima tawaran makan siang plus dibungkusin lauk lengkap sama nasi sama ibunya Novi. Makasih banyak, Om & Tante.


















Perjalanan kami lanjut ke desa Adat Sade, sebelum ke Kuta. Dan ini tempat memang bagus, desa adat yang dirawat dan dimanfaatkan sebagai destinasi wisata. Rumah-rumah beratap rumbia pandan, lantai tanah dan dinding kayu bambu. Ini juga surganya kain tenun Lombok, harganya lebih murah dari di toko souvenir dan pusat tenun yang sebelumnya kita datangi. Pada borong deh tu teman perjalanan saya. Cuma saya doang yang ga beli kain, gak demen juga. Hehehe.








Kelar membocorkan isi dompet kami lanjut ke Kuta. Untungnya sopir carteran kami kooperatif, bisa nego kemana aja dan ngasih waktu yang leluasa. Ya iyalah kan kita yang bayar. :D pas banget sore sebelum sunset, kami sudah sampai di Kuta. Lagi-lagi si master travelling kita, Cisca, sudah booking-in penginapan dong. Saya sama Marisa bengong aja pas menyadari kenyataan ini. :D karena kami berdua emang gak siap apa-apa, taunya ikut aja nginep sini situ, bayarnya segini, iya-in aja. Hahahaha. Terimakasih bu Cisca, we love you! :*


Kelar taruh barang di penginapan, kami jalan ke pantai. Lumayan jaraknya untuk jalan sore, keringetan langsung. Kondisi pantainya sepi karena kami gak di pusat pantai Kuta nya, posisinya amigos; agak minggir sonoan dikit. :D jadi gak rame orang juga, pun gada wisatawan selain orang lokal yang jalan sore ke pantai. Jadi kegiatan kami gak jauh berbeda dengan di pantai-pantai sebelumnya; bengong dan melamun. Diselingi sesi foto-foto yang jutaan gaya. :D Begitulah kira-kira sesampainya kami di Kuta. Detail kegiatan di Kuta yang gak sampai 24 jam ini bakalan saya post di entri selanjutnya. Okey? 

Cheriooo~~

Saturday, March 18, 2017

Gili - Lombok Trip : Day #3 strolling Meno, ada pangeran berkuda putih!


Hari pertama di Meno tetap setia pada tujuan liburan, bermalas-malasan dan doing nothing. Ya kaya turis gak niat gitu ya tapi memang itulah tujuan kami liburan kesini, ga pengen terlalu banyak agenda smp kurang menikmati. Jadi utamanya tetep santai, melamun dan bengong. :D Karena kemarin datang udah kesorean dan hanya sempat jalan ke pantai terdekat sebelum maghrib datang jadi paginya kami memutuskan untuk cari sunrise seperti biasa lalu lanjut keliling daerah sekitar. Meno yang jauh lebih sepi dibanding Trawangan bikin kita lebiih leluasa menikmati spot sunrise dengan khidmat.

Jam 4 lewat sudah bersiap menuju pantai yang walking distance-nya lumayan olahraga dan lewatin kebon-kebon. Untungnya kemarin sore sempat nyobain jalan kebon di sisi utara bungalow dan memastikan itu jarak terpendek yang bisa kami tempuh ke pantai. Pagi itu kami jalan di kegelapan bermodal senter hape dan ngobrol sepanjang jalan karena horor di kebon ada ‘krusek krusek’nya. K setelah lumayan ngos-ngosan sampailah kami di tepian pantai yang juga area suatu hotel berbintang. Banyak gazebo warna putih tapi sepi dan cuma ketemu dua turis wanita yang juga menanti sunrise. Langsung menghampar di pasir menantikan sunrise versi Meno.






Kalau dua teman langsung menghampiri air, saya? Gelar kain pantai dah rebahan. :D kapan lagi rebahan pagi-pagi di tepi pantai sepi gini, ya kan? Karena masih gelap, jadi lanjutin bobo sambil melamun. Duh, agendanya memang cuma pindah bengong aja kok ini. Intinya, nikmati waktu pribadi bersama-sama. Lho gimana? Ya intinya memang perginya bareng tapi sah-sah aja buat melakukan obsesi-obsesi pribadi. Termasuk melamun, bengong atau mau nangis bahkan ketawa ngakak, boleh banget. 15 menit kemudian kami bertiga duduk di kain pantai yang saya gelar, melihat matahari terbit perlahan dengan warna jingga, merah muda serta biru. Semuanya diam. Gak tau dua teman mikirin apa, saya cuma mikirin ‘Ya Allah, subhanallah sekali hadiah mu di hidupku!’ Keberuntungan seperti ini tidak milik semua orang tapi milik mereka yang terpilih. Saya beruntung bisa jadi salah satu yang beruntung itu. Many-many Alhamdulillah for the life i’ve been through. J

















Ketika alam telah terang penuh, kami lanjut jalan menyusuri tepian pantai sambil (lagi-lagi) melamun. :D sempet sih ngobrol sejenak dan foto-foto tapi sisanya banyak diemnya. Pas balik, kami coba lewat jalan setapak yang (nampaknya) mengarah sebuah hotel/ resort di ujung pulau. Ohoo, ternyata ada kios penjual souvenir. Isinya dominasi gerabah dan aneka anyaman, ada beberapa handmade crafts juga. Lucu-lucu deh. Masih pagi jadi belom buka dan yang punya kios masih entah dimana. Sambil jalan sambil mampir, puas lihat-lihat kami jalan lagi. 



Nah pas lewat di kebun sebelah resort mendadak dari belakang ada suara derap kuda. Kita bertiga nengok, eh kuda nya udah di belakang kita aja. Menjerit secara kompak lah kami dan kudanya kaget. Hahahaha. Tau-tau si kuda putih udah belok ke arah pantai dan ada yang nunggangin. Setengah kaget setengah malu, penunggang kudanya mas-mas kaya di telenovela gitu bok. Pake kaus dan celana panjang putih, rambut ikal, senyum  manis. Eaaa! Kata mas-nya, “gak papa kok, dia gak bakalan nabrak.” Ya kali mas, kita kan kaget. :D


Habis ketemu mas-mas berkuda putih dan balik ke bungalow, sarapan deh kita. Kami rencana minta pindah kamar krn extend sehari jadi biar lebih murah ya pilih kamar yang lebih murah saja, tokh sama aja sih. So, habis sarapan kami ngurus pindah kamar yang dihiasi cerita geli-geli kocak soal kamar yang kami pilih. Pindah dua kali karena kamar yang kami incar pertama di lantai 2 bekas dipakai dua bule cowok dan belom diberesin. Pas kami cek kamarnya, eh Marisa nemu ‘bungkusan karet’ dong yaa. xD Seketika geli berjamaah dan kami memutuskan pindah kamar lain aja. Hahahaha. Kamar kedua kami akhirnya di sebelah resepsionis bungalow dengan tembok dari anyaman bambu. Segala omongan kita bisa nembus ke sebelah. Wkwkwkwk. Untungnya kamar sebelahnya kosong. Bodo amat juga kalo kedengeran. :D


Beres pindahan kamar, apakah yang kami lakukan? Yak, saya dan Marisa tidur siang! :D Mungkin turis lain mikir-mikir mau tidur siang pas liburan gini karena pasti sayang waktunya, mending buat kemana gitu. Lah kita juga mikir gitu tadinya, mau ke danau yang ada di Meno. Pas liat peta kayanya tinggal jalan bisa ini. Etapi pas nanya orang sana, jauh bok. Mikir-mikir deh ke danau kalo jauh, musti sewa sepeda. Nggenjot nya aja udah males. Hahahaha. Kami rombongan turis pemalas. :p Yasudah tidur siang aja. Cisca sepanjang siang memanfaatkan angin sepoi-sepoi di teras kamar sambil streaming-an. Biasanya agenda di kamar setiap habis jalan adalah cek sosmed, upload dan pamerin ke penjuru dunia. Wkwkwkwk. Tapi ada saat dimana kita jenuh cek sosmed dan akhirnya cuma kirim-kiriman foto doang, udah. Sisanya ngerumpi tanpa tema.

Sorenya, kami ke loket kapal cek jadwal kapal ke Bangsal besok pagi jam berapa sekalian jalan kaki keliling setengah pulau. Ngeliatin resor-resor mahal dan kelaparan karena belum makan siang akhirnya kami menepi di restoran dekat gang bungalow kami. Saya dan Marisa makan nasi campur atau nasi rames lah kalo orang Jawa bilang. Sementara Cisca pesan italian pizza super gede. Makan deh kita sembari menikmati angin laut dan suara ombak. Restorannya luas dan menghadap pantai, pas kita dateng sih sepi tapi makanan nya luamaaaa bener keluarnya. Hampir bikin singa ngamuk. Wkwkwkwk. Kalo soal porsi gausah kawatir, muat makan dua orang. Harganya gak jauh lah sama makanan di bungalow. Emang rata-rata 30rb-50rb itu sekali makan disana udah harga wajar.kalo mau hemat bisa pesan dua menu untuk makan tiga orang. Selesai makan, jalan lagi ke pantai sekalian nunggu sunset baru balik ke bungalow.


























Kami masih punya satu malem di Meno dan besok kami bertolak ke Bangsal lagi untuk lanjut ke Mataram dan ke stop point terakhir kami, Kuta. Malem-nya, beres-beres dong ya karena kapal ke Bangsal ada yg jam 9 pagi jadi kami memutuskan langsung cuss habis sarapan. Di Meno gak banyak toko-toko kaya di Trawangan jadi kami gada beli oleh-oleh. Memang niatnya beli oleh-oleh di Mataram aja sih. Besok kami bakal menjebolkan dompet kami untuk itu. Wkwkwkwk. Baiklah, sekian kilasan di Meno yang tidak ada apa-apa ini karena kami memang tidak pengen apa-apa selain gini aja udah cukup. Hahahaha.

Okey, sampai jumpa~

Friday, March 17, 2017

Gili – Lombok Trip : Day #2 Gili Meno, our heart-robber!

sebuah kafe tepi laut

Episode Gili Trawangan diakhiri pukul 4 sore wita ketika kita akhirnya naik ke slow boat menuju Gili selanjutnya; Gili Meno. Setelah Marisa dan Cisca menunggu dalam kelaparan dan mupeng mau makan pop-mie, kelimpungan cari air panas ke minimarket yang ternyata abis dan cuma cukup buat satu pop-mie, masih ngiming-imingin saya yang gak bisa makan pop-mie dan sekawanan nya.

Penyeberangan ke Meno makan waktu sekitar 25-30menit, hampir sama dari Bangsal ke Trawangan. Kenapa lama padahal pulaunya aja keliatan dari Trawangan? Ya karena kudu muter setengah pulau dulu dan pelabuhan Meno ada di sebaliknya pulau yang kita lihat dari Trawangan. Tarifnya pun jauh lebih mahal dari rute Bangsal-Trawangan; 35ribu sekali sebrang. Itu pun jadwalnya cuma dua kali sehari. Rada bengong pas tahu harga tiket slow boat-nya jauh selisihnya sama ke Trawangan. Tapi kita akan tahu kenapa setelah tiba disana.


----

Pertama, kapal ke Meno tidak setiap jam berangkat dan yang ke Meno 90% adalah turis asing. Se kapal kita orang lokalnya banyak tapi yang wisatawan lokal cuma kita bertiga. Lainnya turis asing semua dan rata-rata mereka sudah setengah ‘tanning’ habis berjemur di Trawangan, bawa ransel setinggi badan saya. Begitu sampai Meno, cuma kapal kita saja yang bersandar dan kemudian berangkat lagi ke Bangsal atau balik ke Trawangan. Pelabuhan nya gak se ramai Trawangan.

Kedua, Gili Meno jauh lebih sepi dari Trawangan. So quite. Tenang dan kalem, musik gak berlomba-lomba jebolin spiker. Bener-bener santai dan slow banget atmosfernya. Kita bertiga langsung kompak berseru; ini nih yang kita cari. Berlanjut, jalan kaki mencari lokasi bungalow yang dipesan sebelumnya. Yang ini lumayan jalannya jauh dari pelabuhan. 15menit jalan kaki gontai dengan kondisi jalanan sepi, hotel, losmen dan bungalow gak se-padat di Trawangan. Rasanya kaya di kampung setempat saja, bukan di kawasan wisata.


Tanda wilayah Gili Meno yang ketutupan semak-semak


Sampai akhirnya kita menemukan bungalow kita yang berada tepat di depan sebuah sekolah dasar. Sepanjang mata tengok-tengok, kok cuma ada kebon ya? Di sisi kiri resepsionis nya ada dua kamar. Kita pikirnya bakal menempati salah satunya. Pas nunggu kamar, sambil disuguhin welcome drink es sirup jeruk yang segernya mak nyes, kami ditawari untuk upgrade room. Karena mas-nya lihat kami datang bertiga dan kebetulan ada kamar AC yang kosong untuk sehari, cuma nambah 50rb saja. Pas lihat kamarnya, kita melongo. Mak, ini mah kaya di villa harga sejuta di Bali. Kamar kita berada di tengah-tengah kebon yang tadi kita lihat di sisi kanan resepsionis, berbentuk rumah adat sasak; rumah lumbung.


Es jeruk dan 'bonus' mas bule di belakang... :D


Our crib at Gili Meno
Suddenly, we feel homey. Jatuh hati langsung di pandangan pertama. Kita betah aja gitu di menit pertama nempatin kamar hasil upgrade-an yang pakai nego rada alot ini. Yah walo cuma ditempatin sehari tapi ini lebih dari ekspektasi. Kamar yang semuanya dari kayu, dari lantai sampai dindingnya. Kamar mandinya di belakang gedenya ¾ ukuran kamar kita. Yah walo isinya cuma pancuran, kloset sm wastafel tapi super lebay memang. Saya yang bengong aja menikmati kenyataan kamar kita segini ‘mewah’nya mengingat kita wisatawan kere hore.

Kamar dengan kasur queen size ini lengkap sama kelambu bak kamar orang honeymoon. Lampu dipasang di sudut-sudut kamar jadi suasana kamarnya hangat. Dan lagi-lagi, koneksi internet lancar jaya 24jam. Betah banget dah ini gak kemana-mana, sampai makan malam pun kita cuma ke meal service-nya bungalow saking malesnya nyari ke tepian pulau sana. Lumayan ada menu makanan Indonesia macam nasi goreng, nasi ayam, mie goreng dan semua dalam satu harga; 25ribu. Porsinya? Beneran porsi bule, atau bisa juga dibilang porsi anak kost, menggunung dan kenyang sampai susah gerak. Enak pula. Lengkap lah kebahagiaan kita sebagai turis kere hore ini. :D


Kasur ber-kelambu yang menangkal nyamuk ganas. :D

Ah, seharian ini kita nampaknya habis cuma buat menikmati kamar doang. Seperti yang sebelumnya, kita memang gak punya itinery. Jadilah kami berbenah kamar dan barang sembari diskusi mau kemana, ngapain dan jam berapa aja rencana jalan kita. Mengingat Meno ini super sepi kalo malam dan minim lampu jalan jadi kita putuskan tidak ada agenda keluar di malam hari. Selain memang kita nya juga males jalan malem-malem. Badan rasa rontok semuanya kalau malam, maklum ya wisatawan kere hore kan andalannya cuma kaki ama perut. Kalau kaki capek, perut kosong ya lemas lah kita. :D

Oke deh, cerita soal kegiatan di Meno bakalan di post terpisah saja biar lebih greget dan fokus.


Ciao!

Thursday, March 16, 2017

Gili – Lombok Trip : Day #2 Gili Trawangan, gowes bonus kue.


One day passes.

Pagi pertama di Trawangan setelah melahap matahari terbit yang cantik, sekarang kita harus packing lagi untuk pindah pulau sebelah. 






Akan tetapi jadwal kapal ke pulau sebelah cuma ada dua kali sehari, jam 8 pagi dan jam 4 sore. Kita sudah kelewat kapal pagi karena balik dari sunrise aja udah menjelang jam 8 pagi, jadilah kita nunggu kapal sore jam 4. At least, kita punya waktu sekitar 5 jam sebelum nyebrang maka kita putuskan untuk sepedaan keliling Trawangan. Nyewa 22ribu/ orang (psst, itu udah ditawar dari 25ribu lho) dipake se-patahnya kaki. Hahaha, gak lah. Cuma sampai kita check-out dari penginapan tapi lumayan udah ber-konde kaki ini gowes seujung pulau doang. Ternyata gede banget, bok. Gak sanggup kalau mau kelilingin pulau beneran. Yaudah lah yaa muterin kampung nya aja sudah seneng banget kita.


Mari lahkita gowes...


Keliling kampung di Trawangan pakai sepeda adalah salah satu must-to-do, tinggal pilih mau nyusur pantai apa jelajah kampung nya yang gede banget itu. Oiya, di Trawangan tidak diijinkan mengendarai kendaraan bermotor. All was non-machine vehicles. Ada cidomo (sejenis dokar/ kereta ditarik kuda) dan penyewaan sepeda almost every inch on your step. Jadi kalau jalan kaki di main road paling-paling papasan sama ratusan bule bersepeda atau mlipir mendadak karena suara kaki kuda narik cidomo.

Asiknya tanpa kendaraan bermotor disini berarti bebas polusi asap kendaraan. Selain itu lebih tenang juga suasana jalannya. Bisa banget ngobrol di jalanan sambil nguping orang-orang yang lewat yang juga lagi ngobrol sambil jalan. Kalau naik sepeda, lebih enak keliling kampung daripada di main road yang ramai banget pejalan kaki. Kita cuma muterin kampung, nembus kebon dan beberapa villa serta hostel yang asik tapi tersembunyi banget. Ternyata banyak sekali penginapan yang ‘nylempit’ diantara kebun dan kampung.




nyasar ke kebon orang. hahaha



Oh, ternyata gak nyasar sendirian.


Mungkin yang ‘nylempit’ dan tersembunyi itu justru yang banyak dicari turis, suasananya lebih tenang daripada yang berada di main road Trawangan. Tentunya ada suasana juga ada harga, mau cari yang kelas kere hore kaya’ kita sampai yang bintang tujuh serasa di Maladewa tinggal pilih. Yang jelas, selalu ada tempat bagi yang punya niat.

Cottage kita punya fasilitas setara hotel bintang 3 lah kalau di Jawa, tapi kalau soal koneksi internet nirkabelnya setara bintang 5. Ngebut dan menyala 24jam penuh. Kalah deh wifi gratisan di minimarket itu. Sarapan pun pilihannya ala ‘bule’ semua; pancake, toast, omelete. Tidak ada pilihan nasi goreng kaya hotel bintang 3 di Jawa. Karena teman se-cottage hampir semua bule jadi ya dimaklumi saja. Nasi mah bisa makan lagi besok kalau balik Jawa. :D


Sarapan ala kadarnya tapi enak.


Karena sarapan yang ‘extra ordinary’ itu, maka kita pun meng-gowes sepeda rada random. Selain sepeda nya emang gak gitu sip, ya karena sarapan kurang ‘nonjok’ itu tadi jadi tenaganya cuma kuat gowes se-iprit bagian pulau. Cisca yang duluan stop karena selain dia paling kurus, jangkauan tenaga untuk gowes udah gak sinkron sama kaki. Akhirnya kita bertiga berhenti di depan Pearl beach club, hotel dan resto yang cukup ‘wow’ dan nampaknya bintang 5 kalau lihat luasnya areal yang mereka punya. Pas di depan hotel, ada bakery house yang juga bagian dari beach club. Karena saya ini paling ‘gatal’ urusan makanan maka belok lah saya.
















Iseng aja lihat mereka jual apa saja, selain es krim gelato yang jelas-jelas terpampang cold storage nya di depan toko. Ada aneka pastry, roti dan cake. Semuanya nampak enak (perlu di-ingat, kami habis gowes dengan tenaga sarapan seadanya) dan harganya gak se mahal dugaan kita. Aneka pastry segede telapak tangan dibandrol 15ribu-25rb sedangkan kue keik dibandrol 20ribu-45ribu. Karena kita tadinya cuma penasaran jadinya cuma beli kue wortel seharga 15ribu dan milkshake strawberry 30ribu buat bertiga. Keik-nya amazingly, enak banget! My best carrot cake ever deh. Selain memang enak beneran, belinya jauh bok, sampai Trawangan pula. :D



carrot cake yang super lezat


Well, kue wortel super enak sudah menjadi penutup petualangan kita di Trawangan dengan senyum lebar.


Sweet sweet love, Trawangan!

Wednesday, March 15, 2017

Gili – Lombok Trip : Day #1 Gili Trawangan, gegap gempita pulau pesta.

Lombok! Yihaa~




Mendarat di siang hari yang panas dan cuaca terang benderang adalah sebuah pertanda baik. Baru datang sudah kepanasan, lalu kelaparan. Kita bertiga memutuskan untuk makan siang di bandara sebelum menyambung perjalanan pakai armada Damri menuju Senggigi. Yah, kalau makan di bandara memang gak bisa berharap tinggi-tinggi, asal perut keisi saja lah. Setelah quick lunch, kita langsung keluar bandara dan menuju Damri yang tiketnya sudah terbeli sebelum makan siang tadi. Ada 3 pilihan stop point Damri dari bandara Lombok Praya, yaitu ke Senggigi, Mandalika dan Selong. Kita ambil yg ke arah utara yaitu Senggigi dan makan waktu sekitar dua jam perjalanan.

Dari Senggigi masih sambung lagi pakai taksi ke Pelabuhan Bangsal buat nyebrang ke Gili. Tiket Damri 35ribu untuk jarak bandara-Senggigi. Dua jam kami sukses tidur di bus, tau-tau nyampe drop point Senggigi dan langsung disambut sopir-sopir travel serta taksi Bluebird. Setelah diskusi bertiga dan nanya tarif travel serta taksi, kita putuskan ambil taksi Bluebird dengan tarif 130ribu sampai Bangsal. Jarak tempuhnya sekitar satu sampai satu setengah jam dengan jalan berkelok-kelok naik turun gunung yang bikin saya sukses mual-mual sampai pelabuhan. :x

Sampai di Bangsal, kita beli tiket kapal. Ada dua pilihan kapal, yaitu speed boat dan slow boat. Selisih harganya 35ribu untuk speedboat dan 15ribu untuk slowboat. Langsung pilih slowboat aja karena kita gak terburu-buru atau ngejar waktu, jadi milih yang murah bin santai. Belum duduk 5 menit, kapal udah dipanggil untuk berangkat. Ternyata, slowboat gak slow-slow amat jalannya. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke Trawangan, pulau terbesar di gugusan Gili. Untung lah laut hari itu kalem, jadi kapal aman dari oleng yang ekstrim. Dan ternyata saya sukses gak mabuk laut! mengingat tadi sempat mual habis naik taksi sampai pelabuhan, ternyata aman pas naek slowboat. Im so into the water. :D


'nyeker' on the boat. :D

And, welcome to Gili Trawangan!


Gili Trawangan, landed!

Kaya’ ngimpi nyampe disini, masak sih saya udah di Gili Trawangan? Tadi pagi masih ngantuk di Surabaya, sekarang udah nyeker di pantai. My happiness bar has risen. 10 menit pertama kita bertiga senyum-senyum di tepi pantai, lalu disadarkan kalau harus naruh barang ke penginapan karena sudah menjelang sore. Rencananya sore ini kita bakalan mencari sunset dan sekedar jalan di main road Trawangan. Masih dengan kaki nyeker karena sendal masih di dalam backpack, kita jalan menyusuri gang mencari penginapan yang sudah dipesan sebelumnya.


Berbagai sign penginapan di salah satu gang di Trawangan.

Hampir 20 menit yang melelahkan mencari penginapan dan akhirnya ketemu, langsung deh bongkar muatan. Kita sekamar bertiga, untung dapat kamar yang kasurnya gede dan Cisca yang paling langsing serta kecil, Marisa yang paling besar sedangkan saya diantara mereka; kecil tapi gemuk. Sepertinya memang kita bertiga ini di-setting pas muat sekasur bertiga. Posisi tidur saya selalu di tengah-tengah, karena yang paling muda harus ngalah sama yang tua-tua. :D urusan bagi kasur kelar, langsung deh kita keliling Trawangan. Sembari nunggu senja, nengokin deretan bar yang 90% isinya turis asing semua. Memang berasa turis di negeri sendiri kalau ini, tapi dari ketiga Gili memang Trawangan jadi pusat keramaian. Gegap gempita setiap malam, penuh orang party kaya gak ada hari esok. :D





 Serunya Trawangan adalah banyak banget kafe, bar and resto yang pasang musik bersahut-sahutan. Walopun jalan sendirian, kamu gak akan ngerasa kesepian (yaelah). Kalau urusan makan, kudu pinter-pinter pilih warung deh. Mostly memang menyajikan menu western tapi kalau mau menu Indonesia ya ada cuma kudu cari yang rada masuk gang atau di tengah perkampungan, untuk menghindari shock saat membayar. Saya kemarin sama Cisca beli nasi goreng satu buat berdua, seporsi 25ribu. Yah lumayan ya daripada kelaparan malem-malem. Kembali ke jargon awal; asal perut keisi makanan aja deh.

Penginapan kita emang lumayan masuk gang tapi deket masjid gede, deket klinik 24jam dan ada warung juga. Saya lupa harganya semalem berapa tapi gak lebih dari 300ribu kok kalau gak salah ingat. Cuma ada dipan, lemari kecil, kipas angin dan kamar mandi dalam. Air buat mandi ya air laut, gurih bener kalau mandi siang-siang, air nya anget asin pula. Berasa mandi pake kuah bakso (tinggal tambahin bawang putih sama merica). Sama halnya dengan makan, mandi selama di Gili adalah; yang penting kesiram air aja deh. Bersih dan seger nya nanti aja kalau udah balik bisa mandi bersih dan seger. :D


Masjid besar di ujung gang penginapan kami.

Kadang mandi itu cuma peluruh lelah aja kalau capek keliling pulau atau motret di pantai, selebihnya jangan dipikir. Tidur pun dikeroyok nyamuk, bonus keringetan pula. Rasanya cuma pengen cepet pagi lalu ke pantai nongkrongin sunrise. That was my favorite all the time. Bangun pagi sepagi yang kita bisa, lalu jalan ke pantai yang masih gelap dan sepi. Yep, Trawangan di waktu subuh bener-bener tenang. Lengang jalanan dan musik udah mati, menyisakan bule-bule ketiduran di tepi pantai sisa pesta semalam. Tinggal kita nongkrong aja di tepi pantai menikmati ketenangan dan menantikan sunrise yang selalu menakjubkan.






Kira-kira begitu lah kita menghabiskan waktu di hari pertama sampai Trawangan. Gada kegiatan seru yang aneh-aneh karena agenda utama kemari adalah menikmati hari dan suasana. Pokoknya santai aja.
Okay, will update about our next day in following post.


See you!

Tuesday, March 14, 2017

Gili – Lombok Trip : Day #1 Rencana Gila & Nekat.


Do you believe in destiny? I do.

Ketika kita merencanakan sesuatu jauh-jauh hari dan hanya bisa disimpan sendiri hingga satu hari, kita bertemu orang-orang yang punya rencana yang hampir serupa dan menarik kita untuk mewujudkannya, you just can say ‘I do’.

Itulah yang terjadi pada diri saya beberapa waktu lalu, simply impulsive decision at the right moment. Karena Aquarius adalah zodiak yang sangat impulsif, makan gampang saja untuk memutuskan sesuatu mendadak dan tau-tau semuanya sudah 80% berjalan. Well, kadang keputusan impulsif tak selamanya buruk. Setidaknya begitulah yang saya alami. :D

Berawal dari obrolan saya dan tiga kakak angkatan di bangku kuliah yang tergabung dalam grup ‘Antrojajanhopper’ karena kami dulunya adalah sekelompok cewek yang ditemukan oleh persamaan dalam hal gemar jajan dan jalan-jalan. Grup di Whatsapp™ (WA) adalah awal dari ide nekat kami. Ngobrol ngalor ngidul soal mimpi berlibur yang pada satu titik saya menyebut bahwa tiket pesawat ke Lombok PP via Surabaya di bulan April waktu itu ternyata jauh lebih murah dari tiket saya ke Palu kemarin yang cuma sekali jalan.

Singkat cerita, kami iseng menjajal, 
“beli aja yuk tiketnya, kasih aja tanggal dua bulan dari sekarang. Jadi apa nggak, pokoknya beli aja.” 
Dan klik! Saya, Marisa dan Cisca sepakat beli sedangkan Dika yang kebetulan kerja & tinggal di Bali berencana menyusul saja karena dia punya agenda prajab di Jakarta bulan depan. So, hanya kami bertiga yang sudah positif bisa jalan.

Tiga dari empat orang sudah klik beli tiket berangkat nya dan kami kemudian bengong bersama. In a minute, kita bertiga sudah 50% bakalan pergi ke Lombok. How impulsive we are. Lalu saya hitung uang di rekening, masih ada sisa sekian ratus ribu untuk beli tiket pulang. Lha terus selama disananya gimana? Teet toot! Gak kepikiran disana mau hidup pake duit apa. :D Sisanya kami bertiga diskusi via WA perkara akomodasi mulai dari tujuan, transport sampai penginapan. Yang paling semangat dan well-prepared adalah Cisca, sebagai senior saya di kampus sekaligus senior urusan travelling. Udah jalan-jalan sampai Jepang dan Korea segala. Percaya deh kalo si mbak satu ini sudah turun tangan maka 70% perjalanan wisata bisa jalan dengan mantap dan tentu saja hemat
.
Hemat? Di Lombok? 
Oh tentu saja, itulah inti perjalanan kami. Modal dan bekal utama adalah nekat, baru hemat dan terakhir nikmat. xD Tiga modal utama disamping modal ‘selamat’ itu jadi fokus utama perjalanan kali ini. Mengingat ini perjalanan pertama kami bertiga maka persiapan yang dilakukan bersama secara jarak jauh (Cisca di Jogja, Marisa di Jember dan saya di Sragen) via WA dipandu oleh Cisca, sebagai ‘mother of travelling’ kami. :D

Persiapan kurang dari 3 bulan (kami klik tiket sekitar bulan Februari) dan dipilih minggu akhir bulan April dengan pertimbangan tidak ada libur nasional di bulan tersebut dan harga terendah. Aslinya sih rada ngasal milih bulan, pokoknya pertimbangan tidak ada libur nasional atau pun event tertentu maka bisa dipastikan tiket maskapai berada di level terendah.
And yes we got it right! 
Pas di tengah bulan, traffic tidak terlalu padat karena kami berangkat di tengah minggu (hari kamis pagi) dan pulang balik di awal minggu (hari senin pagi). Setidaknya Cisca yang pekerja gak ijin terlalu banyak, kalo saya sm Marisa kebetulan pas masih longgar. Untuk efesiensi waktu & ongkos, kami putuskan bertemu di Bandara Juanda, Surabaya pada kamis pagi karena tiket kami memang via Surabaya. Waktu tempuhnya lebih pendek juga dan jauh lebih ringan di kantong kami. Jogja, Jember dan Sragen bertemu di Surabaya.

Our 4am face: Marisa - Cisca - Me :)

Pesawat kami terjadwal pukul 08.40 wib (kalo gak salah inget) dan tiba di Lombok sekitar pukul 10.40 wita. Kami bertiga berangkat dari homebase masing-masing rabu malam dan jeng jeng jeeeng, jam setengah 4 pagi kami sudah sampai dong bandara. :D So early and so sleepy, of course. Kami bertiga yang muka bantal karena gak bisa tidur nyenyak di jalan bertemu di minimarket depan terminal 1 dan menunggu waktu sambil strolling around di bandara. Check-in counter baru buka sekitar pukul 7 jadilah kami 3 jam lebih nongkrong rumpi di minimarket. Ngopi pagi di minimarket sambil cek itinery bareng, berkali-kali Marisa nyeletuk, “gila ini, kita mau berangkat ke Lombok beneran, cuy. Nekat bener kita nih...” saya dan Cisca cuma ketawa karena memang benar adanya kami saat itu; gila, nekat.



Waiting room belum buka... wefie saja lah. :D


#LiburanModalBismillah kami ini dimulai dengan sedikit clueless, berharap kami dapat ‘kejutan’ di sepanjang perjalanan. Terutama sih saya, sebagai orang paling clueless di perjalanan ini karena gada ekspektasi apapun. Cisca dan Marisa masing-masing punya agenda setibanya di Lombok, mau kesana kesini sedangkan saya, ikut mereka aja lah. Bukannya gak punya tujuan tapi saya lebih suka menikmati saja apa yang ada daripada ngarep kesini kesana tapi akhirnya gak kesampaian kan nyesek, cuy. Jadilah saya ikuti itinery kedua mbak senior saya ini saja. Itinery yang tidak pernah saya punyai itu ternyata ada hikmahnya juga, banyak malahan.

Saya hanya tahu kalau kami bakalan ke Gili entah itu Gili yang mana aja, pokoknya saya nyampe di Gili aja udah bahagia bener. Lalu beberapa hari sebelum pulang bakalan stay di Lombok daratan dan keliling ke tempat yang sejalur dengan jalan balik ke bandara biar kaga repot kalau baliknya besok. Itinery yang kami susun bersama via WA ini ternyata di-upgrade sama Cisca dengan sangat well-planned. Saya dan Marisa cuma bisa takjub, whoa memang lah mbak kami satu ini top kalau urusan travelling. Lengkap banget deh, penginapan semua dipesan via web jauh sebelum kami berangkat. Harga dan wujud penginapannya beberapa sudah dibagi via WA jadi kami sudah punya persetujuan dan gambaran nanti mau tidur dimana. Pokoknya Cisca ini jempolan deh kalau urusan travelling. I love you mbak Cisca! :D

Penerbangan ke Lombok makan waktu satu jam, sampai disana time zone nambah satu jam jadi kami akan tiba dua jam ke depan. Yah, sejam bisa laah dipake tidur dulu sebelum nanti sleepless selama disana. Oke, time to fly! Will post our arrival story in next post.



See you really soon, Lombok~