Wednesday, March 16, 2016

Perfect Day Calling...

Hello, it's me.

wah #WildfireWritingProject udah sampai ke pertanyaan ke 3. Mari kita lihat ada pertanyaan apa di poin ke tiga ini. Hmm...

3. Before making a phone call, do you ever rehearse what you're going to say? Why? 

Sometimes, yes. Terutama kalau telepon soal penting yang resmi dan urgent. I do rehearse the conversation. Tapi lain soal kalo menelpon orang terdekat seperti keluarga atau teman. Just make a call and let the time lead our conversations. Jarang merencanakan percakapan, kecuali jika sedang ada hal yang ingin dibahas. Selebihnya spontan saja. Kenapa harus di-rehearse, ya supaya omongannya gak out of context aja sih. Biar lebih fokus dan sampai tujuannya. Daripada sudah nelpon ngobrol kesana kemari tapi malah lupa tadi mau ngomongin apaan kan repot juga. 

Mostly, saya lebih ditelepon. jarang sekali nelpon duluan. Entahlah, saya ini orang yang kurang suka berbicara via telepon. Lebih sreg kalau ketemu langsung, ngobrol banyak secara langsung. Tapi jika tidak memungkinkan, saya lebih suka baca pesan secara tertulis seperti BBM, Whatsapp atau email. So menelpon adalah pilihan terakhir ketika jalan lain seperti pesan singkat dan pesan elektronik tidak bisa dijangkau. 

Lah, pertanyaan nomer 3 singkat gini jawabannya. Yasudah kita sambung ke pertanyaan nomer 4 sekalian. :D

4. What would constitute a perfect day for you? 

Duh pertanyaan nya sentimentil amat ini. LOL. 

Oke, coba dijawab tanpa sentimentil dulu lah. Hari terbaik dalam hidup saya adalah ketika melihat orang-orang yang saya sayangi tersenyum dan berbahagia. Dengan atau tanpa saya. Karena kebahagiaan mereka lah sumber nyala kehidupan saya. Bukan berarti kebahagiaan diri saya gak jadi prioritas, tapi kebahagiaan orang di sekitar saya adalah sumber kebahagiaan saya. Tentunya, saya harus mengutamakan kebahagiaan diri saya dulu. 

Gimana saya bisa bahagia-kan orang lain di sekitar jika saya sendiri tidak bahagia? Tidak bisa juga menggantungkan kebahagiaan ke ke orang lain. What makes us happy is right inside ourself. You get those sparks when had its fire on you. Upaya menyalakan 'api kebahagiaan; dalam diri kita adalah sepenuhnya tanggungjawab kita sendiri. None can guarantee those matter except yourself. So i'll make myself sure about what makes me happy first.

On another thought, maybe my wedding day will be the perfect day to me. Karena sejatinya impian sebagian besar wanita di muka bumi ini adalah had her perfect wedding day & life. Me too. Jadi gak salah kalo saya berharap nanti bisa menjadikan hari itu sebagai salah satu hari yang nyaris sempurna dan membahagiakan banyak orang. aamiin.

well, dua pertanyaan langsung dijawab untuk bulan ini. Postingan selanjutnya aku skip utk bulan depan soalnya saya bakalan banyak di luar kota jadi rada susah kalo harus mosting di tengah perjalanan. Jadi untuk bulan depan bakalan di-isi potingan lain dulu ya. 

keep healthy and happy! ;)

Monday, February 8, 2016

A Famous Dreamer.

First post in #WildfireWritingProject sudah terlaksana. yeay! Saatnya melanjutkan ke second post. Pertanyaan kedua ini lebih mikir dari yang pertama tapi kayanya harus dibikin lebih sederhana deh. Oke, mari dijawab. :D

2. Would you like to be famous? In what way? 

Famous? Hmm, dari kecil saya ini pengkhayal ulung. Tiada hari tanpa berkhayal; mulai dari jadi penyanyi, akting jadi pemain film, memasak bak Sisca Suwitomo hingga jualan majalah pura-puranya jadi Pak Hono tukang koran langganan jaman saya SD. Beberapa orang menyebut ini dengan 'playing role' atau berpura-pura menjalani peran tertentu. Tapi sejak saat itu saya membayangkan kalau nanti saya sudah dewasa, saya kepingin jadi banyak peran seperti yang sedang saya lakoni ketika bermain. Kadang ingin jadi pengarang buku, main film dan berakting, menyanyi bak diva, atau jadi koki. Segala peran nampak menarik dan menyenangkan. Tapi ketika beranjak remaja, saya mulai punya hobi baru yang lumayan konsisten dan sesekali masih jadi 'playing role' saya; berhubungan dengan buku. 

Ya, saya jadi pustakawan. Hampir setiap hari menghabiskan waktu istirahat membaca aneka buku di perpus sekolah yang waktu itu koleksi bukunya masih terbatas dan dominan buku teks untuk pelajaran. Suka mengamati bu guru dan petugas perpus yang saban hari melayani sirkulasi buku di perpustakaan hingga saya mendaftar jadi salah satu pustakawan. Menikmati peran yang sesungguhnya sebagai pustakawan. Sungguh menyenangkan! :D Semasa sekolah menengah, perpus adalah kehidupan saya. Saat itu, cita-cita menjadi pustakawan makin menjadi-jadi. Hanya dengan bekal satu keyakinan; jadi pustakawan maka saya bisa baca buku sepuasnya......setiap hari. Dan ya, hanya itu tujuan saya saat itu. Nampak remeh ya? Tapi ketika masuk kuliah, cita-cita masa remaja ini lah yang justru banyak membantu belajar saya di bangku kuliah. 


Me-review bacaan adalah tugas paling dominan ketika masa kuliah. Berbekal hobi membaca dan berkelana di perpus maka tugas review dan bikin paper adalah hal yang menyenangkan. Sampai-sampai saya berpikir untuk jadi penulis saja karena menikmati saat mengetik review di layar komputer dan menulis sampai lelah. Terbantu dengan aneka jenis tugas dan paper saat kuliah, maka kemahiran mengetik cerita pun berkembang. Berbekal blog ala kadarnya, saya memulai menulis di blog dan Blogger ini adalah salah satu starter-pack saya. :p 


Dengan starter-pack sebagai seseorang yang mudah ter-distraksi maka saya ingin terkenal sebagai seorang pengkhayal saja lah. :D Saya kurang tahu apakah ini bisa dilegalkan sebagai sesuatu yang bisa dibanggakan atau tidak tapi saya rasa tidak semua orang berbakat sebagai pengkhayal. Boleh lah seorang pengkhayal jadi kebanggaan karena bisa dipakai nulis skrip film/ sinetron, membuat prakarya atau sekedar mengarang cerita untuk bed-time stories. ;) Mungkin dengan jadi pengkhayal, rasa terkenal tidak terlalu penting. Berkarya lebih utama dan bisa berbagi dengan orang-orang di sekitar. :)


Pertanyaan kedua sudah terjawab dengan random-nya dan cukup senang menyadari bahwa seorang pengkhayal seperti saya butuh daya untuk membuat apa yang saya khayalkan menjadi nyata. Sampai sekarang saya masih berusaha menjadikan diri saya seorang pewujud khayal, merealisasikan apa saja yang pernah saya khayalkan tentunya dengan kemampuan dan kekuatan saya. One thing for sure, one of my dreamer already fullfiled: berkhayal bisa meraih master degree sebelum usia 30 and i did it. That's what i called 'a dream comes true' indeed. :)

Wednesday, January 6, 2016

My VIP Dinner Guest


terinspirasi dari MV-nya Seafret-'Wildfire' becerita tentang sebuah project di mana beberapa orang yang tak saling kenal dipasangkan lalu diberikan 36 pertanyaan untuk saling ditanyakan pada pasangan yang dilakukan secara acak. Setelah nonton saya jadi pengen tahu apa saja sih pertanyaan yang dilontarkan dari kartu-kartu yang mereka baca diatas meja itu? Setelah scrolling sedikit, ada Youtube user yang berbaik hati merangkum ke 36 pertanyaan tersebut. So, i copied and try to answer the question one-by-one in separated post blog.


Sebelum menjawab pertanyaan, perlu saya kasih alasan sedikit kenapa lagu ini jadi alasan menulis saya di blog ini. One, i do love arrange words for answers. Two, MV-nya terlalu menyentuh untuk sekedar 'cuma' ditonton sambil lalu. Terutama melihat ekspresi orang-orang yang ada di sana, mereka yang mengalami 'berbagi dengan orang asing', nampaknya tak jauh beda dengan apa yang selama ini saya lakukan di blog saya. Yah, ndak ada salahnya mencoba. :D

Oke, kita mulai dari pertanyaan pertama.

1. Given the choice of anyone in the world, whom would you want as a dinner guest?

well, mengacu pada kondisi saat ini sih kalau boleh saya sebut lebih dari satu orang. Apalagi kalo disuruh menyebutkan orang-orang di seluruh dunia. Tapi ada beberapa yang banget-banget saya prioritas kan untuk jadi dinner guest saya. :D Baiklah, saya akan sebut satu per satu lalu menyertakan alasan kenapa saya memilih dia. ;)

1. Jamie Campbell Bower

Ini salah satu pemainnya City Of Bones (CoB), pemeran Jace Wayland. Kenapa dia? Kesengsem sama aktingnya sebagai Clary's boyfriend yang garang dan petarung di luar namun rapuh dan lemah di dalam dirinya. selain ganteng, dia ini multi talenta. Bisa akting, bisa nyanyi. Dan dia ini termasuk aktor yang berhasil debut lewat CoB. Seru kayanya kalo bisa dinner bareng si mas Jace ini. :D

2. Sylvia Day


Dia perempuan keturunan Jepang-Amerika yang juga punya pseudoname S.J Day dan Livia Dare. Penulis novel seri Crossfire ini berhasil bikin saya penasaran soal cara dia menciptakan tokoh Gideon Cross yang tepat persis seperti bayangan saya tentang seorang bernama Gideon Cross. Entah kenapa novelnya seolah mengetik imajinasi saya. Merinding! Kenapa dia? Sebenarnya pengen bertanya langsung, kira-kira dia pas nulis seri Crossfire ini membayangkan apa dan siapa saja ya? Kira-kira kalau jadi film, Day bakalan pilih siapa yang jadi si Mr. Dark and Dangerous? hahaha.

3. NH. Dini


Penulis novel sastra kawakan Indonesia ini konon katanya orangnya tidak ramah, tertutup dan sukar ditemui. Para penggemarnya yang datang ke tempat tinggalnya pun sering tidak diterima dengan baik karena beliau memang tidak suka menerima tamu. Hmm... sebagai fans berat karya-karya beliau, rasa tertutup, tidak ramah dan defensif itu mungkin akibat dari trauma beliau terhadap orang asing dan orang tak bertanggungjawab pada pengalaman kehidupan beliau di masa lalu. Kenapa dia? Saya menempatkan beliau di daftar ini karena saya betul-betul ingin ketemu tapi kalo dengar perangainya nampaknya rada mustahil untuk bisa ketemu beliau. :(

4. Jang Keun Suk (JKS)


Akhirnya muncul juga artis korea di daftar ini, hehehe. Nge-fans sama Sukkie (his nickname) sejak main di film Baby & I waktu dia masih usia belasan tahun. Walaupun sering dibilang dia ini 'yeppeon namja' alias cowok cantik tapi buat saya dia adalah sosok yang pengen sekali saya temui. Kenapa dia? Bukan cuma soal tampang tapi artis yang juga penyanyi ini dikenal sangat ramah dan murah senyum sama fans. How lovely... dan ada kabar burung beredar, kalo dia convert ke muslim. Salah satu pertanyaan yang akan saya tanyakan kalo ketemu sama dia; are you really convert to muslim? if you say yes, let's tied the knot. :))

5. Sukardi (alm.)

Yeps, he's my late grandpa that i've never had chance to met. Beliau meninggal sebelum papa saya menikah. Rada mustahil ya pengen ketemu tapi kok sama orang yang sudah meninggal. But, let's put it into all posibilities ya, ber-andai-andai saja. :D Kenapa dia? he's the early man that put many efforts to myself at this age. Konon katanya karakter wajah, pembawaan dan sifat saya menurun dari beliau. My curly-wavy hair, my dark skins, my arabic face, my talkative and so on. He dominates almost 70 percent of me. So, i wonder kalau ketemu beliau, saya cuma pengen memeluk dan berkata; terimakasih ya opa sudah mewariskan begitu banyak hal baik untuk saya. :)

Saya stuck di nomor 5 dan udah bengong mau nulis siapa lagi, karena terlalu banyak. :D But, that's top 5 people yang sekiranya saya pengen ajak dinner kalau ada kesempatan dan keajaiban. Mostly ya penulis buku karena salah satu hobi saya adalah membaca. Keberadaan seorang penulis di luar sana kadang bikin saya berandai-andai apa sih yang mereka hadapi dan rasakan sehingga bisa menulis dengan begitu apik? Yah, saya juga punya cita-cita meski kecil saya pengen jadi penulis. Menulis untuk mengabadikan momen, membekukan waktu, mencipta karya untuk diwariskan ke mereka yang mungkin merasakan bahwasanya tulisan dapat melecutkan harapan. :)

Okay, people. Sampai jumpa di #WildfireWritingProject selanjutnya ya!