itu bukan sekali. namun beberapa kali. bahkan berkali-kali.
begitu kira-kira perasaan ku ketika mengalami kejadian itu; melihat seseorang yang selalu ku sebut dalam doa siang malam ku tiba-tiba menjauh dan pergi membawa seluruh sisa jiwa ku dan lenyap tanpa ada bekas-nya. Kemana kah dia pergi kali ini? setelah sebelum nya ku temukan dia di sisi sungai deras, dibawah atap rumbia rumah sawah, ditengah rumpun semak kebun belakang Wak Haji.
Arman kerap kali beranjak dari dipan pada waktu matahari tepat diatas kepala, saat bayangan tegak lurus dengan badan hingga tak ada kemiringan. Selepas dzuhur ketika aku mulai sibuk mengerjakan tugas rumah tangga yang diperintahkan Mamak pada ku sejak pagi buat selepas subuh. Mengelilingi rumah beserta segenap pekerjaan membuat ku alpa akan keberadaan Arman yang telah kutinggalkan sendiri dalam rumah semenjak lepas fajar menyingsing.
Ku biarkan dia bermain-main di alam mimpinya yang tenang dan damai, tak mau aku mengganggu nya barang sekejap pun. Aku menyayangi Arman sepenuh jiwaku sepanjang malam-malam penuh bintang dan menjadi separuhnya tepat ketika aku terbangun mendengar kumandang adzan Wak Haji yang khas dari langgar.
siang ini selepas aku mengerjakan pekerjaan rumah aku berbaring kembali di dipan untuk menemui Arman barang sejenak sambil melepas lelah. Tapi siang ini ia kembali beranjak sejenak, ku nanti kan dalam tenang di sisi ranjang sembari mengurai urat lelah di sekujur badan.
satu jam.
satu setengah jam.
mataku yang sayu terbuai angin yang menerobos jendela kayu mendadak terbelalak.
Arman tak kunjung kembali.
Tak seperti biasanya dia pergi beranjak begitu lama.
'Kali ini kau kemana, Arman?' sebut ku dalam hati.
tentu lah tak ada balasan karena sudah pasti kau tak mendengarnya. hanya ada suara hujan perlahan turun diatas genting rumah kayu milik Mamak & Abah yang sedari ku lahir hingga jauh di usia berkepala dua ini ku tinggali. Tanpa punya petunjuk apa-apa lantas ku bergegas menuju jalan kampung menyusuri setapak-nya hingga ujung sungai, hingga nampak rumah sawah kemudian melintas di depan rumah Wak Haji sembari melongok ke kebunnya yang dipenuhi semak rimbun. Ada kah kau disana, Arman? apa kau kembali bersembunyi atau kah kau sudah benar-benar pergi? Ku tak henti-hentinya menabur tanya sepanjang perjalanan dengan harap ada jawaban dari semesta mengenai dirimu. Tapi nihil semata.
"Kenapa kau mondar-mandir, Num? Cari apa?"
ternyata Wak Haji lewat sepulang dari langgar mengumandangkan adzan ashar serta memimpin jamaah sholat. Aku tertegun sesaat lalu tergagap menoleh ke Wak Haji yang menyandang sajadah di pundaknya.
"cari Arman, Wak. Wak Haji lihat kah kemana dia pergi siang tadi?"
Wak Haji tersenyum hangat, senyum khas seorang tua yang mengayomi dan teduh wajahnya menyiratkan ketenangan jiwa yang amat dalam.
"Apa kau sudah cari ke tempat biasa? ke kebunku sudah?"
tanya Wak Haji kembali, sembari berjalan perlahan menuju pekarangan rumahnya.
"tak ada, Wak. Semua sudah ku datangi, tak ada tanda Arman kesana. Kiranya kemana dia kini ya, Wak? Kasi lah aku tempat yang lain, Wak. Wak Haji kan hafal semua sudut desa ini."
Aku memandang Wak Haji dengan harap beliau menyebut tempat yang mungkin terlewat oleh ku.
Namun bukan memberi jawaban, Wak Haji justru tertawa sembari duduk di beranda rumahnya memandangi ku yang kebingungan di samping kebun rumahnya nan luas lagi rindang itu.
"Hanum anakku yang cantik lagi pandai, Wak mu ini sudah terlalu tua untuk ingat berbagai tempat di desa ini, apalagi yang mungkin disinggahi Arman. Bagaiman kalau kau mampir ke rumah Wak saja sore ini?"
Wak Haji mengipas dirinya dengan sajadah sambil menggapaikan tangannya ke udara kosong di hadapannya memanggilku.
Aku berjalan gontai ke dalam pekarangan Wak Haji sembari tetap berfikir kemana kiranya Arman pergi kali ini.
"Aku tak bisa lama-lama ya, Wak. Sekejap tak apa lah aku mampir ke rumah Wak Haji tapi aku harus bersegera mencari Arman sebelum petang tiba. Tak apa, Wak?"
ujar ku sembari melepas kelom di muka beranda lalu naik ke beranda rumah Wak Haji yang teduh dengan bale-bale dan meja.
"iya tak apa, Num. sekejap saja kau mampir tak apa, Wak Haji hanya ingin suguhi kau segelas teh hangat."
Aku duduk di bale-bale dan Wak Haji masuk sekejap lalu keluar lagi membawa segelas teh hangat. Aku meraih gelas teh hangat yang disodorkan Wak Haji sembari berterimakasih lalu meneguk isinya dalam sekali minum.
"kau haus sekali nampaknya, Num. Besok saja cari Arman nya, sekejap lagi petang, nanti Mamak kau cari-cari lagi."
"tidak Wak, kali ini aku harus temukan Arman. Jangan kasih tau Mamak dan Abah ya Wak, habislah aku kalo mereka tahu aku cari Arman sampai petang nanti."
"Kalau mereka tanya pada Uwak bagaimana?"
"Jawab saja Wak tidak tahu. atau bilang saja Wak Haji hanya tau aku pergi, itu saja. Jangan sebut Arman ya Wak, kasian Mamak nanti pingsan lagi kalo dengar nama Arman disebut. Abah pun bisa meledak amarah juga. Ya Wak, ya?"
Aku memohon. Wak Haji hanya tersenyum lalu mengusap kepala ku penuh sayang layaknya kakekku sendiri. Lalu aku memohon diri dan kembali ke jalan menyusuri jalanan desa bersama petang yang perlahan turun.
Istri Wak Haji, Mak Umi yang selalu membuatkan aku kueh santan yang nikmat dan selalu menyapu pekarangan ketika fajar merekah dan aku beranjak pulang dari langgar, nampak di ambang pintu ketika aku menoleh melambaikan tangan berpamitan dan berlalu.
"Hanum masih cari Arman ya pak?"
tanya Mak Umi.
"Iya, mak. Seperti biasa, tiap sore dan belum akan kembali kalau bintang belum datang."
"Besok kita bilang ke Maksum saja, pak. Kasian Hanum kalau terus begitu. Memang berat tapi mereka harus tau. Hanum masih muda, sudah batal menikah dan ditinggal kabur calon suaminya. Bukan tidak mungkin kalau dia...."
Mak Umi tak meneruskan perkataannya, Wak Haji menepuk pundak istrinya sembari memasuki rumah bersiap ambil wudhu lalu ke langgar untuk mengumandangkan adzan maghrib.
"Mau bagaimana, mak. Orangtuanya tidak mau menerima kenyataan kalo Hanum sedikit 'berbeda' setelah kejadian itu. Tapi akhir-akhir ini mulai mengkhawatirkan karena Hanum tak mau berhenti mencari jika malam belum turun dengan bintangnya."
Mak Umi mengusap ujung mata dengan punggung tangan, mendesah pelan lalu memaksa senyum.
"Hanum terlalu muda dan terlalu cantik untuk dipermainkan nasib seperti ini ya, pak. Sungguh malang nian kau, Num..."
Wak Haji lamat mendengar gumaman istrinya sembari menahan airmata diujung mata.
"Tak ada yang mau dipermainkan nasib, apalagi Hanum. Tapi dia sedang bermain dengan nasibnya, dia akan baik-baik saja. kita doakan saja."
Wak Haji menutup perkataannya dengan mengambil air wudhu di tempayan sebelah sumur.
Hanum masih berlarian di sekeliling desa, Mamak dan Abah sedang bersiap ke langgar, tak ada yang aneh tak ada yang berbeda. Hanya saja hati Hanum mulai tidak enak.
"Arman, aku ke langgar dulu. kau cepat pulang, sekejap lagi gelap turun dan malam tiba. Kalau tak ada bintang bagaimana kau akan pulang, sayang? Cepatlah, aku nantikan kau..."
Aku bergegas ke langgar dan berharap sepulang dari langgar kau sudah tiba dirumah dengan selamat dan aku akan memelukmu erat tanpa ku lepas lagi agar kau tak kemana-mana lagi hingga aku harus terus mencari mu hingga petang begini.
Arman yang tak kan pernah pulang ke pelukan Hanum, karena Arman yang Hanum cari telah membuat Hanum seperti sekarang ini. Hanum yang cantik lagi pandai, bunga desa nan dipuja para pria, kini tak lagi ingat siapa-siapa kecuali Arman. Pria yang senantiasa ia cari sekaligus pria yang mengoyak 'batas kesadaran' nya hingga Hanum dikata orang menjadi 'gila'.
Hanum tidak gila, kata Hanum pada orang yang memandangnya aneh. Hanum cuma bingung dan khawatir cari Arman yang tak kunjung pulang,
Hanum bukan gila!
Teriakan Hanum makin keras diiringi derai airmata di kedua matanya. Setiap kali Hanum teriak dan menangis, tiap itu pula Hanum lupa jika Arman meninggalkan Hanum dengan sejuta perih di tubuh dan hatinya, Arman yang memilih pergi dengan wanita lain ke kota, meninggalkan Hanum yang terenggut cinta dan kesucian-nya pun harga dirinya karena batal dinikahi.