Monday, September 21, 2015

a new 'job'.

Hello there...

Long time no update. ;)
Hanya karena banyaknya draft dalam web-blog yang lupa di-aplot hingga 'menunggak' berbulan-bulan lamanya. Maafkan. :D

Sebenarnya tiap bulan sudah ada post update tapi lupa melulu mau di scheduled jadinya ter-onggok di draft list dan berjamur. Mau di-post sekarang sudah gak seru lagi jadi baiknya di re-scheduled saja. 

What's new here?
Well, i would post some of my goals and targets or some wishes maybe? not really sure which one i ought to post first but surely will do really soon. Since now i started work on 'little happy office' look-alike nearby friend's house to do some articles writing, reading, discussion and also research. B'cos it's newly month at my work office so im intend to re-arrange my schedule due to jobs. New comer are always had lots to do and learn, rite?

Selain kesibukan 'ngantor' di belahan kota utara membuat keharusan berhubungan dengan banyak orang baru dan belajar dengan siapa pun maka ada banyak sekali PR yang harus diselesaikan. Mengasah kemampuan menulis dengan dibarengi membaca berbagai artikel serta buku, membiasakan diri menulis kreatif dan efisien, membaca lebih banyak genre buku, menonton lebih banyak film dan tayangan. Semuanya demi kemajuan diri dan untuk menggali potensi. *tsaelaah...* :D
masih menyesuaikan diri dengan jam kerja yang 'ajaib' (start at mid-day 'till eve, 5hours a day from 12pm to 17pm), rekan kerja yang 'istimewa' serta mandatory jobs at sudden time. Melawan rasa malas, enggan, malu serta minder. Ditambah meeting yang tidak pasti jadwalnya serta durasinya ditambah lokasi yang tidak terduga, benar-benar kantor penuh kejutan. 

So far, it's fun to be here. 

Will update more really soon! 

Ciao~

Sunday, September 6, 2015

1 Dekade Kebersamaan '05

Pertemanan yang berlangsung lebih dari tujuh tahun konon katanya akan bertahan sampai tua. 

Tahun ini, angkatan almamater telah mencapai satu dekade. Sepuluh tahun semenjak kita pertama bertemu di kampus dengan wajah remaja dari berbagai daerah di Indonesia, belajar bareng di kelas perkuliahan. Rasanya seperti baru kemarin kita kenalan, kuliah dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore, diselingi main sana-sini, bolos sana-sini dan juga tugas tanpa henti. Siapa sangka kini sudah sepuluh tahun berlalu dan kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu, berkumpul dan berbagi.

Ide berkumpul di sepuluh tahun kebersamaan ini awalnya cuma ide iseng ku sama teman satu geng yang memang sudah jarang bertemu sejak tahun 2009 dimana tahun itu adalah tahun pertama lulusan di angkatan ku. Tahun-tahun selanjutnya kami sudah berpencar ke berbagai kota dan melakoni bermacam kegiatan pasca kuliah. Tapi aku dan tiga orang sahabat satu geng masih diberikan kesempatan untuk tinggal (lagi) di Jogja. Dua dari kami bersekolah kembali, satunya berumah-tangga. Kita berpikir, kapan lagi bisa berkumpul dan pas dengan momentum yang mungkin gak terulang lagi nantinya. Tibalah pada ide satu dekade angkatan, pas di tahun 2015 dan sebagian besar teman-teman sudah bekerja di luar Jogja. Berbekal niat silaturahmi dan berbagi, maka aku dan dua teman memprakarsai acara kecil dan sederhana untuk mengumpulkan teman dan mensyukuri kebersamaan.

Pada akhirnya, hanya aku dan satu teman yang benar-benar 'bergerak'. Lainnya hanya wacana saja entah gimana maksudnya tapi kita pilih untuk tidak ambil pusing dan tetap jalan maju. Mengurus pre-order t-shirt dari nol ; cari designer untuk pengerjaan logo dan segala hal yang berhubungan dengan desain grafis, order ke konveksi yang diselipi acara 'salah komando' hingga harus re-stock order, mengurus perijinan lokasi ke kampus yang naudzubillah rempongnya, muter uang konsumsi se-cermat mungkin hingga bisa meng-cover seluruh peserta tanpa bayar lagi, hingga persoalan bagi tugas yang tidak terbagi sama sekali pada akhirnya. Syukurlah aku punya teman yang cukup tanggap dan mau ikut wira-wiri meski harus gendong anak-nya yang baru satu setengah tahun kemana-mana. 

kita memilih mengerjakan semuanya dalam diam, bukan tidak mau dibantu tapi kita sudah terlampau kecewa dengan janji-janji sehingga kita putuskan kita kerjakan yang kita bisa dan selesaikan apa yang kita mulai. Beberapa teman yang rajin menanyakan bantuan justru mereka yang tinggal di luar Jogja. Tak apalah kita sedikit 'ngoyo' asalkan semuanya beres dan senang. Yah meskipun kita dicerca sana sini karena tidak ada ini, tidak tersedia itu, semua komentar kita lewatkan saja. Kita tidak ambil bayaran se-peserpun dan memang gamau ambil bagian sedikitpun. Kita bener-bener niatnya hanya membantu menggerakkan potensi yang ada dan dana yang tersedia.

Alhamdulillah, kita sukses besar. hampir 50 persen teman-teman bisa hadir. yang di luar kota jauh-jauh hari sudah pesan tiket, yang dari jepang pun dibelain pulang duluan demi bisa hadir di acara angkatan. Semua rasa capek, kesel, mangkel dan marah hilang seketika melihat senyum di wajah teman-teman. That's priceless. Entah kapan lagi kita bisa berkupul seperti ini lagi nantinya tapi kita berusaha untuk menjaga silaturahmi meskipun terpisah kota dan negara. Hanya karena kita masih merasakan betapa momen berharga macam ini tidak selalu dimiliki, tidak selalu terulang. 

Those day we were so touched. 
Melihat teman lama berkumpul, kita berbagi tawa, makanan, cerita hingga gosip. Seharian bareng-bareng, serasa masih jaman kuliah dulu. pagi sampai siang berkumpul di kampus, siang sampai sore kita berpencar di beberapa lokasi, saling mengundang acara (dari ngopi-ngopi, karaoke, sleepover hingga sunday morning bareng) sampai pagi menjelang. Semuanya bergembira bersama. Im so blessed. :) 



 




Monday, April 13, 2015

The Tattoo Wish

I wish I had tattoo.

This may one old dream but still get along ‘till nowadays. I wish I could get tattoo in my skin; one or two tattoos would be okay.
One day I search website about tattoos when I’ve made assignment then suddenly I fall in love with one unique tattoo. Alphabetic tattoos in Hindi or Bengali’s letter, I couldn’t remember. But it was cool tattoos that made me fall into pieces since first sight. Like relic written in old parchment from Mesolithic era. I just can’t stop think about it; those cool Hindi letters just fulfilled my mind. I keep searching about those things in years while hoping someday I could get this letters in my skin write my last name. That last name also means ‘queen’ in Hindi language or Bengali/ Swahili. I wish those signature last name of mine could turn into cool tattoo in letters that related to its meaning.

I wish I could get my skin tattooed.

Before I turn 40, I keep dream on about having tattoo still alive in my mind. Where I will put it on? Well, I ever imagine about getting tattooed scroll-down in my hind-head. At first I think it’s just my favorite part to be kissed when I get laid. Second, it was the feeling that part is the rarest part to be seen by others except my lover, when I get naked with bunch-up hair. I do love being hug from behind and get my nape kissed, what it was like when I get sexy tattoo there. My last name in Hindi letters carved and your finger could grope on it. Maybe I could forget the endless pain when needles carved skin and get inked into graffiti, coloring my skin with blood and leave reddish marks that will turn into great scratch.

I wish I could ink my last name with yours.

That was my second option when I get to think about my life-partner; will he okay with my tattoo? I just think to get his last name tattooed together with mine, too. Scrolled-down continuous from hind-head into back bones. Like tail of dragon, not in straight-way but curvy-like dynamic shape identically with dragon or snake tail. It will go well in my back, along my body and I can imagine when you just feel the ink-bold relic in my skin. Two last-name chained together into tattoo was my bloody proof about keep you close than my nerves. Maybe you could get one too, wherever you like. But if I could suggest you, along your hands from shoulder into wrist or just the same place like mine. Those spot were just my favourite part of yours, your back as my favorite to lean on and your shoulder was my favorite cuddle spot that I can’t ever get enough.

I wish my tattoo would appear like my other sex-appeal; deadly breath-taking sneak out from my back.


But I don’t hesitate to get its too good to be true. Just make it personal yet gorgeous because it would be my lifetime engaging with this inked skin. No wonder if people around us defending about having one, not just about the pain nor the appearance but our social values itself. Once I get inked, then I never get my step backwards for lifetime. A friend of mine ever said; get tattoo is just like make scars, you wouldn’t get rid off for lifetime. More than that, get my body inked is getting myself ready for bad response along rest of lifetime after. No different with marrying a person you choose or who choose you; once you stepped in, there’s no turning back. You will get along with it for lifetime.

Wednesday, February 11, 2015

light update~

in a rush.
banyak sekali kerjaan tapi rasanya kudu sempat ngepost satu atau dua update disini. :D

well, hello guys!
long time no update, yes? Still getting busy with my own business. Sekarang juga tambah kerjaan dengan nulis-nulis lucu buat web-blogging. lumayan menambah portofolio dalam jurnalistik media online. :D
oh ya, some of my write wouldn't update much here karena saya punya proyek blog lain yang update berkala dan berisi lebih 'serius' dari yang ada disini. Well, some fiction here will stay here tapi di proyek blog lain I've update more often. But it's not going public anyway karena masih di-rehab konten dan desainnya. Will going more better i hope so.

Actually, saya mengelola 3 blog secara pribadi. dua blog personal dan satu blog khusus my interest in food. Yea, I'm early bird food-writer now. Belom se-serius dan se-piawai para food blogger lain but I'll going another way to write about food and their relations. You can go check into Food Adventurist! untuk tengok tulisan-tulisan saya soal makanan dan berbagai sisinya. Bukan rupa tulisan review-review semata tapi juga shading other side of food and its content.

Will get you some update later on if possible. Thank you for keep update reading my blog. ;)

Sunday, January 11, 2015

mencari Arman

itu bukan sekali. namun beberapa kali. bahkan berkali-kali.

begitu kira-kira perasaan ku ketika mengalami kejadian itu; melihat seseorang yang selalu ku sebut dalam doa siang malam ku tiba-tiba menjauh dan pergi membawa seluruh sisa jiwa ku dan lenyap tanpa ada bekas-nya. Kemana kah dia pergi kali ini? setelah sebelum nya ku temukan dia di sisi sungai deras, dibawah atap rumbia rumah sawah, ditengah rumpun semak kebun belakang Wak Haji.

Arman kerap kali beranjak dari dipan pada waktu matahari tepat diatas kepala, saat bayangan tegak lurus dengan badan hingga tak ada kemiringan. Selepas dzuhur ketika aku mulai sibuk mengerjakan tugas rumah tangga yang diperintahkan Mamak pada ku sejak pagi buat selepas subuh. Mengelilingi rumah beserta segenap pekerjaan membuat ku alpa akan keberadaan Arman yang telah kutinggalkan sendiri dalam rumah semenjak lepas fajar menyingsing.
Ku biarkan dia bermain-main di alam mimpinya yang tenang dan damai, tak mau aku mengganggu nya barang sekejap pun. Aku menyayangi Arman sepenuh jiwaku sepanjang malam-malam penuh bintang dan menjadi separuhnya tepat ketika aku terbangun mendengar kumandang adzan Wak Haji yang khas dari langgar.

siang ini selepas aku mengerjakan pekerjaan rumah aku berbaring kembali di dipan untuk menemui Arman barang sejenak sambil melepas lelah. Tapi siang ini ia kembali beranjak sejenak, ku nanti kan dalam tenang di sisi ranjang sembari mengurai urat lelah di sekujur badan. 
satu jam.
satu setengah jam.
mataku yang sayu terbuai angin yang menerobos jendela kayu mendadak terbelalak.
Arman tak kunjung kembali.
Tak seperti biasanya dia pergi beranjak begitu lama.

'Kali ini kau kemana, Arman?' sebut ku dalam hati.
tentu lah tak ada balasan karena sudah pasti kau tak mendengarnya. hanya ada suara hujan perlahan turun diatas genting rumah kayu milik Mamak & Abah yang sedari ku lahir hingga jauh di usia berkepala dua ini ku tinggali. Tanpa punya petunjuk apa-apa lantas ku bergegas menuju jalan kampung menyusuri setapak-nya hingga ujung sungai, hingga nampak rumah sawah kemudian melintas di depan rumah Wak Haji sembari melongok ke kebunnya yang dipenuhi semak rimbun. Ada kah kau disana, Arman? apa kau kembali bersembunyi atau kah kau sudah benar-benar pergi? Ku tak henti-hentinya menabur tanya sepanjang perjalanan dengan harap ada jawaban dari semesta mengenai dirimu. Tapi nihil semata.

"Kenapa kau mondar-mandir, Num? Cari apa?"

ternyata Wak Haji lewat sepulang dari langgar mengumandangkan adzan ashar serta memimpin jamaah sholat. Aku tertegun sesaat lalu tergagap menoleh ke Wak Haji yang menyandang sajadah di pundaknya.

"cari Arman, Wak. Wak Haji lihat kah kemana dia pergi siang tadi?"

Wak Haji tersenyum hangat, senyum khas seorang tua yang mengayomi dan teduh wajahnya menyiratkan ketenangan jiwa yang amat dalam.

"Apa kau sudah cari ke tempat biasa? ke kebunku sudah?"

tanya Wak Haji kembali, sembari berjalan perlahan menuju pekarangan rumahnya.

"tak ada, Wak. Semua sudah ku datangi, tak ada tanda Arman kesana. Kiranya kemana dia kini ya, Wak? Kasi lah aku tempat yang lain, Wak. Wak Haji kan hafal semua sudut desa ini."

Aku memandang Wak Haji dengan harap beliau menyebut tempat yang mungkin terlewat oleh ku.
Namun bukan memberi jawaban, Wak Haji justru tertawa sembari duduk di beranda rumahnya memandangi ku yang kebingungan di samping kebun rumahnya nan luas lagi rindang itu.

"Hanum anakku yang cantik lagi pandai, Wak mu ini sudah terlalu tua untuk ingat berbagai tempat di desa ini, apalagi yang mungkin disinggahi Arman. Bagaiman kalau kau mampir ke rumah Wak saja sore ini?"

Wak Haji mengipas dirinya dengan sajadah sambil menggapaikan tangannya ke udara kosong di hadapannya memanggilku.

Aku berjalan gontai ke dalam pekarangan Wak Haji sembari tetap berfikir kemana kiranya Arman pergi kali ini.

"Aku tak bisa lama-lama ya, Wak. Sekejap tak apa lah aku mampir ke rumah Wak Haji tapi aku harus bersegera mencari Arman sebelum petang tiba. Tak apa, Wak?"

ujar ku sembari melepas kelom di muka beranda lalu naik ke beranda rumah Wak Haji yang teduh dengan bale-bale dan meja.

"iya tak apa, Num. sekejap saja kau mampir tak apa, Wak Haji hanya ingin suguhi kau segelas teh hangat."

Aku duduk di bale-bale dan Wak Haji masuk sekejap lalu keluar lagi membawa segelas teh hangat. Aku meraih gelas teh hangat yang disodorkan Wak Haji sembari berterimakasih lalu meneguk isinya dalam sekali minum.

"kau haus sekali nampaknya, Num. Besok saja cari Arman nya, sekejap lagi petang, nanti Mamak kau cari-cari lagi."

"tidak Wak, kali ini aku harus temukan Arman. Jangan kasih tau Mamak dan Abah ya Wak, habislah aku kalo mereka tahu aku cari Arman sampai petang nanti."

"Kalau mereka tanya pada Uwak bagaimana?"

"Jawab saja Wak tidak tahu. atau bilang saja Wak Haji hanya tau aku pergi, itu saja. Jangan sebut Arman ya Wak, kasian Mamak nanti pingsan lagi kalo dengar nama Arman disebut. Abah pun bisa meledak amarah juga. Ya Wak, ya?"

Aku memohon. Wak Haji hanya tersenyum lalu mengusap kepala ku penuh sayang layaknya kakekku sendiri. Lalu aku memohon diri dan kembali ke jalan menyusuri jalanan desa bersama petang yang perlahan turun.
Istri Wak Haji, Mak Umi yang selalu membuatkan aku kueh santan yang nikmat dan selalu menyapu pekarangan ketika fajar merekah dan aku beranjak pulang dari langgar, nampak di ambang pintu ketika aku menoleh melambaikan tangan berpamitan dan berlalu.

"Hanum masih cari Arman ya pak?"

tanya Mak Umi.

"Iya, mak. Seperti biasa, tiap sore dan belum akan kembali kalau bintang belum datang."

"Besok kita bilang ke Maksum saja, pak. Kasian Hanum kalau terus begitu. Memang berat tapi mereka harus tau. Hanum masih muda, sudah batal menikah dan ditinggal kabur calon suaminya. Bukan tidak mungkin kalau dia...."

Mak Umi tak meneruskan perkataannya, Wak Haji menepuk pundak istrinya sembari memasuki rumah bersiap ambil wudhu lalu ke langgar untuk mengumandangkan adzan maghrib.

"Mau bagaimana, mak. Orangtuanya tidak mau menerima kenyataan kalo Hanum sedikit 'berbeda' setelah kejadian itu. Tapi akhir-akhir ini mulai mengkhawatirkan karena Hanum tak mau berhenti mencari jika malam belum turun dengan bintangnya."

Mak Umi mengusap ujung mata dengan punggung tangan, mendesah pelan lalu memaksa senyum.

"Hanum terlalu muda dan terlalu cantik untuk dipermainkan nasib seperti ini ya, pak. Sungguh malang nian kau, Num..."

Wak Haji lamat mendengar gumaman istrinya sembari menahan airmata diujung mata.

"Tak ada yang mau dipermainkan nasib, apalagi Hanum. Tapi dia sedang bermain dengan nasibnya, dia akan baik-baik saja. kita doakan saja."

Wak Haji menutup perkataannya dengan mengambil air wudhu di tempayan sebelah sumur.
Hanum masih berlarian di sekeliling desa, Mamak dan Abah sedang bersiap ke langgar, tak ada yang aneh tak ada yang berbeda. Hanya saja hati Hanum mulai tidak enak.

"Arman, aku ke langgar dulu. kau cepat pulang, sekejap lagi gelap turun dan malam tiba. Kalau tak ada bintang bagaimana kau akan pulang, sayang? Cepatlah, aku nantikan kau..."

Aku bergegas ke langgar dan berharap sepulang dari langgar kau sudah tiba dirumah dengan selamat dan aku akan memelukmu erat tanpa ku lepas lagi agar kau tak kemana-mana lagi hingga aku harus terus mencari mu hingga petang begini.
Arman yang tak kan pernah pulang ke pelukan Hanum, karena Arman yang Hanum cari telah membuat Hanum seperti sekarang ini. Hanum yang cantik lagi pandai, bunga desa nan dipuja para pria, kini tak lagi ingat siapa-siapa kecuali Arman. Pria yang senantiasa ia cari sekaligus pria yang mengoyak 'batas kesadaran' nya hingga Hanum dikata orang menjadi 'gila'.

Hanum tidak gila, kata Hanum pada orang yang memandangnya aneh. Hanum cuma bingung dan khawatir cari Arman yang tak kunjung pulang,
Hanum bukan gila!
Teriakan Hanum makin keras diiringi derai airmata di kedua matanya. Setiap kali Hanum teriak dan menangis, tiap itu pula Hanum lupa jika Arman meninggalkan Hanum dengan sejuta perih di tubuh dan hatinya, Arman yang memilih pergi dengan wanita lain ke kota, meninggalkan Hanum yang terenggut cinta dan kesucian-nya pun harga dirinya karena batal dinikahi.