seorang sahabat pernah berujar;
usahakan untuk selalu ada hal yang baru dalam setiap hari-harimu, meski se-sederhana bertemu satu orang yg asing sekali pun. :)
ternyata memang sulit namun jika kita mau mencoba sungguh akan banyak hal-hal luar biasa yang bisa kita dapat. itu setidaknya saya buktikan ketika iseng-iseng menelusuri linimasa twitter beberapa minggu lalu dan menemukan akun @klinikkopi diantara beberapa akun 'berbau' kopi lainnya yang juga saya ikuti linimasa-nya.
si(apa)kah Klinik kopi ini? membacanya disini ternyata ini bukan halnya warung kopi, kafe atau tempat minum kopi biasa, dia menyebut dirinya 'klinik' dimana seperti halnya sebuah 'tempat berobat' bagi mereka yang memiliki problem dengan minuman berwarna hitam pekat ber-aroma khas ini. Saya menghabiskan 'perkenalan pertama' saya dengan-nya melalui laman blog-nya KlinikKopi, membaca apa saja yang telah ada dan yang akan ada di klinik tersebut. Sempat juga mengobrol melalui percakapan maya dengan mas Pepeng yang boleh dibilang 'dokter'nya Klinik Kopi, pertanyaan yang diajukan pun mirip seperti ketika kita berobat ke klinik; "ada keluhan apa dengan kopi? sudah pernah minum kopi mana saja?." sampai akhirnya saya pun berkunjung ke Klinik Kopi dan 'berobat' betulan.
| Hutan jati yang mengelilingi bangunan tempat KlinikKopi foto by KlinikKopi.wordpress.com |
| Suasana 'ruang periksa'nya KlinikKopi; hanya meja racik kopi, tanpa meja-kursi, tanpa wi-fi, bebas asap rokok. foto by Klinikkopi.wordpress.com |
Lokasinya yang di tengah hutan jati lumayan tenang dan bikin rileks, belum lagi bangunan yang dipakai bernuansa eco-green building yang terbuka dan dominan unsur kayu-nya. Di bangunan inilah mas Pepeng dan beberapa kru-nya membuka Klinik Kopi, begitu datang kita wajib daftar dulu dan dapet nomer antrian tapi karena kebetulan saya dateng di awal waktu buka maka saya beruntung gak pake antri dan langsung dilayani sama 'dokter'-nya. Masih diawali dengan pertanyaan yang sama; "apa keluhan kopi Anda selama ini? berapa banyak jenis kopi yang sudah pernah diminum?" - pertanyaan ini ternyata berguna untuk menelusur sejarah kopi di tubuh kita dan membantu menemukan jenis kopi yang cocok dengan tubuh kita. Saya yang terbiasa minum kopi dengan campuran seperti capucinno, mochacinno, latte dan paling banter americano, masalah utama saya cuma satu; saya tidak suka kopi yang punya after-taste masam. Kalau soal mules, gak bisa tidur atau berdebar-debar, itu sudah lama tidak saya alami.
| mas Pepeng, 'dokter'nya KlinikKopi :) foto by Lina Maharani |
Pilihan jatuh pada Bajawa Flores yang penampilan bijinya cantik berkilau. Dibikin dengan alat presso yang seumur-umur baru saya lihat di Klinik Kopi; manual hand-presso. Sepintas mirip pompa air versi mini. :D tapi kalau soal cairan kopi yang dihasilkan sama saja dengan yang bermesin. Diseduh dengan suhu air 98 derajat dan ketika di-presso bisa dilihat langsung hasil crema (buih kopi) yang nampak seperti krim menggantung diatas permukaan pekat kopi Bajawa saya. Cantik dan aroma-nya saya suka. Kopi olahan Klinik Kopi memang sebaiknya disesap ketika buih-buih crema masih kentara di permukaan yang artinya minumlah ketika masih panas. Ini yang jadi persoalan buat saya, saya paling tidak bisa minum minuman yang masih terlalu panas. Tapi demi pengalaman kopi yang berbeda, hari itu saya bikin pengecualian. Tanpa boleh ditiup, saya menyesap kopi Bajawa Flores saya perlahan. Panas, itu pasti tapi rasa yang datang setelahnya bisa dibilang itulah minum kopi yang sebenarnya. Sapuan cairan kopi yang light, tidak terlalu pahit dan yang pasti tidak ada rasa masam. Mulus. Selain saya, ada juga dua teman yang memesan Kintamani vienna dan Wamena. iseng mencicip kopi mereka dan memang berbeda sekali, beda orang beda karakter kopi. Kintamani terlalu 'ringan' hampir serasa minum air biasa, kurang 'kopi' kalau buat saya sedangkan Wamena terlalu asam, jelas saya tidak cocok. Mungkin begitu juga kalau kita ibaratkan obat, obat untuk si A blm tentu cocok untuk si B meskipun mereka sama-sama punya penyakit yang sama. :)
| manual hand-presso foto by Lina Maharani |
| freshly brewed coffee with crema. foto by Lina Maharani |
Salah satu perlakuan yang menarik yang ditawarkan Klinik Kopi adalah beberapa syarat sebelum ngopi; harus sudah makan dan tidak boleh merokok. Dua hal ini nampaknya paling penting buat saya untuk soal ngopi. Lambung kosong memang sebaiknya tidak di'guyur' kopi daripada asam lambung meroket tajam dan sakit perut melanda. Yang kedua, rokok memang sebaiknya tidak bersanding dengan kopi karena asap rokok bikin kopi berubah terutama aromanya sedangkan bagi beberapa orang, kopi adalah jodoh setianya rokok, hal itu pula yang menyulitkan saya menikmati kopi di kafe atau warung kopi karena penuh dengan orang-orang yang merokok dan saya tidak suka asap rokok. Hal unik lainnya adalah tidak ada nya meja-kursi untuk para pengunjung Klinik Kopi sehingga para pengunjung setelah selesai 'berobat' bisa langsung pulang atau duduk lesehan di lantai dan berbincang-bincang. Ya, berbincang dengan orang disekitar mu adalah yang diharapkan disini karena tempat ini pun tidak menyediakan wi-fi atau koneksi internet nirkabel layaknya kafe-kafe kebanyakan. Hal ini disengaja karena mirisnya melihat saat ini orang-orang lebih banyak menghabiskan waktunya memandangi layar ponsel atau gadget mereka hampir 24 jam maka ketika berkunjung ke Klinik Kopi adalah saatnya melepas diri sejenak dari perangkat elektronik atau ponsel dan mulai membiasakan diri berbincagn dengan orang-orang di sekitar kita. Saya pribadi cukup setuju dengan programnya Klinik Kopi ini, mengingatkan kita bahwa kemampuan komunikasi kita saat ini lebih didominasi komunikasi satu arah yaitu lewat gadget/ponsel.
After all, menyenangkan sekali pengalaman baru ngopi di Klinik Kopi ini. Berencana menularkan kepada beberapa kenalan yang 'phobia kopi' agar tau nikmatnya kopi yang tiada duanya ini. Setidaknya gak perlu takut minum kopi kalau tahu betul cara pengolahan dan cara menikmatinya.