Hijau neon.
Tetikus yang saya pakai warnanya hijau neon. tas berenang saya warnanya hijau neon. wadah minum berulang-pakai saya juga berwarna hijau neon. beberapa kepunyaan saya berwarna hijau neon. termasuk salah satu barang yang dimiliki secara tandem antara saya dan seorang yang juga menyukai warna hijau neon. kami punya sebuah buku tulis.
Ya, sebuah buku tulis bergaris biasa berwarna hijau neon dengan ring di sampingnya. Buku tulis yang saya beli di sebuah toko buku di kota tempat saya tinggal ini memang hanya buku tulis bergaris biasa tetapi menjadi istimewa ketika saya mengawali tulisan di buku tersebut dengan sebuah cerita tentang sebuah pertemuan. Pertemuan kami. tulisan saya yang kemudian dia baca lalu dia turut serta menulis menanggapi soal tulisan pertemuan itu dan akhirnya tulisan tersebut menjadi tulisan 'kami' yang sebenarnya.
Esok harinya, buku tulis hijau neon itu ada di tangannya. Dia membawa serta buku tersebut pulang ke rumahnya, 'mau aku baca-baca lagi di rumah tulisanmu kemarin', begitu katanya. seminggu-dua minggu buku tulis itu ada rumahnya, entah diapakan olehnya tidak terlalu penting. Yang jelas pada minggu-minggu selanjutnya, ketika saya bertemu dia kembali, dengan gembira saya menyambut pertemuan kami dengan senyum seraya memandangi apa yang ada dalam genggaman tangan kanan-nya; buku tulis hijau neon.
memegangnya kembali setelah ber-minggu-minggu tak menyentuh dan makin lebar senyum saya ketika membuka lembar-lembar di belakang tulisan carut-marut saya dalam buku tersebut dan menemukan sederet tulisan tangan yang lain yang tak kalah carut-marut; tulisan dia. Saya membaca dengan antusias, berharap dia menulis lebih banyak lagi dan lagi dan lagi tanpa pernah habis saya baca. Dia menuliskan hal yang senada dengan tulisan saya di halaman sebelumnya; menuliskan tentang kita, tentang kami. Menceritakan kami dengan gaya tulisan yang berbeda. Sungguh membuat seperti candu! bukan ceritanya yang candu tapi justru deretan huruf yang digores tinta biru itu yang candu bagi saya. Meraba jejak pena yang dia gores adalah hal menyenangkan baru yang saya lakukan semenjak buku tulis itu kembali ke tangan saya. Betapa hati ini terlalu gembira hanya dengan meraba jejak tinta.
kejadian itu pun berulang lagi, di hari-hari selanjutnya, seperti menjadi sebuah rutinitas, keharusan yang tidak bisa dihindari apalagi dilupakan.
Terus saja seperti itu hingga lembar demi lembar buku tulis hijau neon itu hampir setengah penuh; tulisan cerita curahat hati yang kadang basi, kutipan percakapan-percakapan konyol tapi tak ingin dilupakan, penggalan pesan dari telepon genggam, gambar-gambar hasil karya tangan kami mulai dari gambar pemandangan hingga karikatur muka tokoh kartun, tempelan lembar-lembar tiket nonton bioskop, kumpulan nota/struk belanja berbagai barang-makanan-obat yang kami butuhkan dan selipan lembaran tiket-tiket perjalanan kami ke berbagai tempat di muka bumi. Buku tulis hijau neon nampak layaknya 'museum pribadi' kami penuh berisi hal-hal yang mengingatkan kami akan semua yang telah kami lakukan, lewati dan rencanakan bersama. Buku tulis hijau neon menyimpan semuanya dengan rapi. dengan diam.
~
Buku tulis hijau neon ada di satu tempat yang saya tidak pernah tahu pasti tetapi saya yakin dia tahu betul ada dimana. itu saja sudah cukup.
kini kami tidak lagi bertatap muka bertegur sapa bertanya kabar.
No comments:
Post a Comment