Saturday, September 21, 2013

'Dokter' Ngopi di KlinikKopi

seorang sahabat pernah berujar;
usahakan untuk selalu ada hal yang baru dalam setiap hari-harimu, meski se-sederhana bertemu satu orang yg asing sekali pun. :)
ternyata memang sulit namun jika kita mau mencoba sungguh akan banyak hal-hal luar biasa yang bisa kita dapat. itu setidaknya saya buktikan ketika iseng-iseng menelusuri linimasa twitter beberapa minggu lalu dan menemukan akun @klinikkopi diantara beberapa akun 'berbau' kopi lainnya yang juga saya ikuti linimasa-nya.

si(apa)kah Klinik kopi ini? membacanya disini ternyata ini bukan halnya warung kopi, kafe atau tempat minum kopi biasa, dia menyebut dirinya 'klinik' dimana seperti halnya sebuah 'tempat berobat' bagi mereka yang memiliki problem dengan minuman berwarna hitam pekat ber-aroma khas ini. Saya menghabiskan 'perkenalan pertama' saya dengan-nya melalui laman blog-nya KlinikKopi, membaca apa saja yang telah ada dan yang akan ada di klinik tersebut. Sempat juga mengobrol melalui percakapan maya dengan mas Pepeng yang boleh dibilang 'dokter'nya Klinik Kopi, pertanyaan yang diajukan pun mirip seperti ketika kita berobat ke klinik; "ada keluhan apa dengan kopi? sudah pernah minum kopi mana saja?." sampai akhirnya saya pun berkunjung ke Klinik Kopi dan 'berobat' betulan.

Hutan jati yang mengelilingi bangunan tempat KlinikKopi
foto by KlinikKopi.wordpress.com

Suasana 'ruang periksa'nya KlinikKopi;
 hanya meja racik kopi, tanpa meja-kursi, tanpa wi-fi, bebas asap rokok.
foto by Klinikkopi.wordpress.com

Lokasinya yang di tengah hutan jati lumayan tenang dan bikin rileks, belum lagi bangunan yang dipakai bernuansa eco-green building yang terbuka dan dominan unsur kayu-nya. Di bangunan inilah mas Pepeng dan beberapa kru-nya membuka Klinik Kopi, begitu datang kita wajib daftar dulu dan dapet nomer antrian tapi karena kebetulan saya dateng di awal waktu buka maka saya beruntung gak pake antri dan langsung dilayani sama 'dokter'-nya. Masih diawali dengan pertanyaan yang sama; "apa keluhan kopi Anda selama ini? berapa banyak jenis kopi yang sudah pernah diminum?" - pertanyaan ini ternyata berguna untuk menelusur sejarah kopi di tubuh kita dan membantu menemukan jenis kopi yang cocok dengan tubuh kita. Saya yang terbiasa minum kopi dengan campuran seperti capucinno, mochacinno, latte dan paling banter americano, masalah utama saya cuma satu; saya tidak suka kopi yang punya after-taste masam. Kalau soal mules, gak bisa tidur atau berdebar-debar, itu sudah lama tidak saya alami.

mas Pepeng, 'dokter'nya KlinikKopi :)
foto by Lina Maharani

Pilihan jatuh pada Bajawa Flores yang penampilan bijinya cantik berkilau. Dibikin dengan alat presso yang seumur-umur baru saya lihat di Klinik Kopi; manual hand-presso. Sepintas mirip pompa air versi mini. :D tapi kalau soal cairan kopi yang dihasilkan sama saja dengan yang bermesin. Diseduh dengan suhu air 98 derajat dan ketika di-presso bisa dilihat langsung hasil crema (buih kopi) yang nampak seperti krim menggantung diatas permukaan pekat kopi Bajawa saya. Cantik dan aroma-nya saya suka. Kopi olahan Klinik Kopi memang sebaiknya disesap ketika buih-buih crema masih kentara di permukaan yang artinya minumlah ketika masih panas. Ini yang jadi persoalan buat saya, saya paling tidak bisa minum minuman yang masih terlalu panas. Tapi demi pengalaman kopi yang berbeda, hari itu saya bikin pengecualian. Tanpa boleh ditiup, saya menyesap kopi Bajawa Flores saya perlahan. Panas, itu pasti tapi rasa yang datang setelahnya bisa dibilang itulah minum kopi yang sebenarnya. Sapuan cairan kopi yang light, tidak terlalu pahit dan yang pasti tidak ada rasa masam. Mulus. Selain saya, ada juga dua teman yang memesan Kintamani vienna dan Wamena. iseng mencicip kopi mereka dan memang berbeda sekali, beda orang beda karakter kopi. Kintamani terlalu 'ringan' hampir serasa minum air biasa, kurang 'kopi' kalau buat saya sedangkan Wamena terlalu asam, jelas saya tidak cocok. Mungkin begitu juga kalau kita ibaratkan obat, obat untuk si A blm tentu cocok untuk si B meskipun mereka sama-sama punya penyakit yang sama. :)

manual hand-presso
foto by Lina Maharani

freshly brewed coffee with crema.
foto by Lina Maharani

Selain itu saya juga diajak mengenali penampakan sejumlah kopi kemasan ber-merk yang dijual di pasaran, beberapa ternyata ada campuran beras-nya. :( Baunya pun mengerikan untuk disebut kopi dan produk semacam itu masih dijual luas serta dinikmati orang-orang di luar sana. :( tidak heran kalau banyak yang meng-klaim kopi sebagai minuman yang 'hardcore' efeknya untuk tubuh. Ya jelas kalau yang diminum semacam itu~ tidak terkecuali kopi bungkus atau kopi kemasan/instan dalam saset yang bahkan tidak bisa dikenali mana serbuk kopinya mana serbuk kimia-nya. x( mengerikan~ 

Salah satu perlakuan yang menarik yang ditawarkan Klinik Kopi adalah beberapa syarat sebelum ngopi; harus sudah makan dan tidak boleh merokok. Dua hal ini nampaknya paling penting buat saya untuk soal ngopi. Lambung kosong memang sebaiknya tidak di'guyur' kopi daripada asam lambung meroket tajam dan sakit perut melanda. Yang kedua, rokok memang sebaiknya tidak bersanding dengan kopi karena asap rokok bikin kopi berubah terutama aromanya sedangkan bagi beberapa orang, kopi adalah jodoh setianya rokok, hal itu pula yang menyulitkan saya menikmati kopi di kafe atau warung kopi karena penuh dengan orang-orang yang merokok dan saya tidak suka asap rokok. Hal unik lainnya adalah tidak ada nya meja-kursi untuk para pengunjung Klinik Kopi sehingga para pengunjung setelah selesai 'berobat' bisa langsung pulang atau duduk lesehan di lantai dan berbincang-bincang. Ya, berbincang dengan orang disekitar mu adalah yang diharapkan disini karena tempat ini pun tidak menyediakan wi-fi atau koneksi internet nirkabel layaknya kafe-kafe kebanyakan. Hal ini disengaja karena mirisnya melihat saat ini orang-orang lebih banyak menghabiskan waktunya memandangi layar ponsel atau gadget mereka hampir 24 jam maka ketika berkunjung ke Klinik Kopi adalah saatnya melepas diri sejenak dari perangkat elektronik atau ponsel dan mulai membiasakan diri berbincagn dengan orang-orang di sekitar kita. Saya pribadi cukup setuju dengan programnya Klinik Kopi ini, mengingatkan kita bahwa kemampuan komunikasi kita saat ini lebih didominasi komunikasi satu arah yaitu lewat gadget/ponsel. 

After all, menyenangkan sekali pengalaman baru ngopi di Klinik Kopi ini. Berencana menularkan kepada beberapa kenalan yang 'phobia kopi' agar tau nikmatnya kopi yang tiada duanya ini. Setidaknya gak perlu takut minum kopi kalau tahu betul cara pengolahan dan cara menikmatinya.

Wednesday, July 17, 2013

mydaily update!


"sometimes i write to show you the love-hate relationship between my heart and my mind."
those quote are totally true for me now, since i've been doing nothing for my entire life along this month. oh i really hate it. :(
 
this post maybe one of the proof of those quote, wheter my heart and my mind really do have love-hate relationship just like couple who was dating for over (maybe) 10 years? just for hyperbollic meaning. :p actually, my heart make my mind more complex with their silly mood. they were okay, healthy and very good at works. But maybe just a little wrong with their relationship; some kind a hatred-mood swing between them that i can't understand. sure i never understand if they were keep those things around.
there's one day when i'm totally leave the routinity that i've usually do in one day just for doing nothing. it started last one-a half month ago when the end of my third semester on my study. A big hole in my chest, while suddenly realize i'm no longer attended some class, no longer sit around to listening what my lecture teach and there were no other routinity except my daily sleep-wake-eat-scrolling mouse over the unnecessary webs-eat again-sleep. What i am supposed to do now is (actually) think about my final paper and do the research for my master thesis. Yep, i'm on my way to become a Master of Art *sounds cool, huh?* but i'm still confuse to choose for what kind of reasearch that i should do? nevermind, i'm not going to explain to you about that but one thing that i want to share about here is just about what i've been doing during this 'confusing mood' until the day while i write this down here. okay, you ready? 
where i must start the stories...? umm, ah i know. I'll start with another blog post is good enough. i mean i'll not write the following blogpost in one sheet here. will be confusing to read and focusing for what i've told you before. that's a good idea.
see you next post~

x

Tuesday, May 7, 2013

sebuah 'Hijau Neon'

Hijau neon.

Tetikus yang saya pakai warnanya hijau neon. tas berenang saya warnanya hijau neon. wadah minum berulang-pakai saya juga berwarna hijau neon. beberapa kepunyaan saya berwarna hijau neon. termasuk salah satu barang yang dimiliki secara tandem antara saya dan seorang yang juga menyukai warna hijau neon. kami punya sebuah buku tulis.

Ya, sebuah buku tulis bergaris biasa berwarna hijau neon dengan ring di sampingnya. Buku tulis yang saya beli di sebuah toko buku di kota tempat saya tinggal ini memang hanya buku tulis bergaris biasa tetapi menjadi istimewa ketika saya mengawali tulisan di buku tersebut dengan sebuah cerita tentang sebuah pertemuan. Pertemuan kami. tulisan saya yang kemudian dia baca lalu dia turut serta menulis menanggapi soal tulisan pertemuan itu dan akhirnya tulisan tersebut menjadi tulisan 'kami' yang sebenarnya.

 Esok harinya, buku tulis hijau neon itu ada di tangannya. Dia membawa serta buku tersebut pulang ke rumahnya, 'mau aku baca-baca lagi di rumah tulisanmu kemarin', begitu katanya. seminggu-dua minggu buku tulis itu ada rumahnya, entah diapakan olehnya tidak terlalu penting. Yang jelas pada minggu-minggu selanjutnya, ketika saya bertemu dia kembali, dengan gembira saya menyambut pertemuan kami dengan senyum seraya memandangi apa yang ada dalam genggaman tangan kanan-nya; buku tulis hijau neon.

memegangnya kembali setelah ber-minggu-minggu tak menyentuh dan makin lebar senyum saya ketika membuka lembar-lembar di belakang tulisan carut-marut saya dalam buku tersebut dan menemukan sederet tulisan tangan yang lain yang tak kalah carut-marut; tulisan dia. Saya membaca dengan antusias, berharap dia menulis lebih banyak lagi dan lagi dan lagi tanpa pernah habis saya baca. Dia menuliskan hal yang senada dengan tulisan saya di halaman sebelumnya; menuliskan tentang kita, tentang kami. Menceritakan kami dengan gaya tulisan yang berbeda. Sungguh membuat seperti candu! bukan ceritanya yang candu tapi justru deretan huruf yang digores tinta biru itu yang candu bagi saya. Meraba jejak pena yang dia gores adalah hal menyenangkan baru yang saya lakukan semenjak buku tulis itu kembali ke tangan saya. Betapa hati ini terlalu gembira hanya dengan meraba jejak tinta.

kejadian itu pun berulang lagi, di hari-hari selanjutnya, seperti menjadi sebuah rutinitas, keharusan yang tidak bisa dihindari apalagi dilupakan.
Terus saja seperti itu hingga lembar demi lembar buku tulis hijau neon itu hampir setengah penuh; tulisan cerita curahat hati yang kadang basi, kutipan percakapan-percakapan konyol tapi tak ingin dilupakan, penggalan pesan dari telepon genggam, gambar-gambar hasil karya tangan kami mulai dari gambar pemandangan hingga karikatur muka tokoh kartun, tempelan lembar-lembar tiket nonton bioskop, kumpulan nota/struk belanja berbagai barang-makanan-obat yang kami butuhkan dan selipan lembaran tiket-tiket perjalanan kami ke berbagai tempat di muka bumi. Buku tulis hijau neon nampak layaknya 'museum pribadi' kami penuh berisi hal-hal yang mengingatkan kami akan semua yang telah kami lakukan, lewati dan rencanakan bersama. Buku tulis hijau neon menyimpan semuanya dengan rapi. dengan diam.

~
Buku tulis hijau neon ada di satu tempat yang saya tidak pernah tahu pasti tetapi saya yakin dia tahu betul ada dimana. itu saja sudah cukup.
kini kami tidak lagi bertatap muka bertegur sapa bertanya kabar.


Friday, March 1, 2013

you ever be there.

menyenangkan sekali kalau ingat kamu,
pribadi paling ceria di muka bumi yang pernah ku kenal, makhluk tuhan paling bawel dalam wujud laki-laki, serta tukang kritik paling handal untuk segala hal yang ku lakukan di hadapanmu.

aku masih ingat,
kamu suka sekali sore hari yang tenang dikala aku justru ingin yang riuh.
kamu suka sekali teh hangat yang syahdu sedangkan aku menenggak bercangkir-cangkir kopi yang sangat ku puja.
kamu sangat teliti dalam membeli apapun dikala aku lebih suka menerapkan jurus 'liat-minat-bungkus' ku.
kamu kerap terjaga di malam hingga subuh menjelang dengan berdalih itu masa terbaik menuangkan ide-ide kreatif-mu sementara bagiku itu adalah saat dimana aku menghabiskan waktuku untuk tenggelam dalam mimpi atau bahkan mengantar diriku sendiri 'jalan-jalan'  sendirian lewat novel-novel pengantar tidur.
kamu selalu berpikir ulang untuk mandi pagi tatkala pekerjaan kreatifmu belum kelar hanya dengan alasan takut ide-ide di kepala mu luntur terbawa air.
kamu suka sekali makan bakmoy sementara aku menganggap bakmoy itu rasanya aneh.
kamu suka sekali melamun dengan tangan yang 'berisik' diatas kertas sementara aku membisu dengan mata menatap ponsel penuh konsentrasi.
kamu paling malas diajak pergi-pergi sementara aku ga bisa diam di satu tempat.
kamu hobi sekali mengajakku ke galeri seni, melihat lukisan dan berbagai karya seniman-seniman yang ga pernah aku dengar namanya, nonton gigs & teater dan aku hanya bisa menikmati 15 menit pertamanya saja, sisanya bosan dan ngantuk.
kamu mengenalkan aku pada banyak orang-orang 'hebat' di kota kelahiranmu yang kelak pada akhirnya membuatku punya banyak teman baru.
kamu tidak pernah lupa 'mengunci' helmku, memastikan dan menguncikan belt-nya untukku.
kamu selalu ingat pesan-pesan kecil yang kadang aku sudah lupakan.
kamu tahu betul kalau aku paling tidak bisa menolak permintaan sahabat, kamu selalu mengingatkan untuk aku meluangkan waktu untuk diriku sendiri.
kamu selalu protes kalau aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman dan sahabatku.
kamu selalu 'iri' dengan riuh rendahnya lalu-lintas kehidupanku yang 'terkadang' membuatmu terlewatkan.

begitu banyaknya kamu ku ingat? dan aku yakin kamu lebih banyak dari semua ini. kamu lebih dari sekedar ini, dan kamu bisa jauh lebih dari semua yang tertulis ini.
beribu kata 'terimakasih' pun tak mampu menggantikan semua yang pernah ada, tapi tetap 'terimakasih' untuk semuanya. :)
you. you're the man, that ever be mine, ever being your punk-rock princess and ever be my garage band king. still remember those song, don't you?  i bet you are. :) once more, terimakasih banyak.