Thursday, February 2, 2012

1000 kali pun 'iya'

satu malam.

dia lupa. sesaat ingin menekan tombol-tombol angka di telepon selulernya, mengetik sederet angka yang amat familiar di jarinya. sebuah deretan nomor yang bisa memberikan sensasi luar biasa hebat dalam sekejap, memberikan semangat yang luar biasa besar, dan juga ribuan rasa meluap-luap lainnya. namun sesaat ia teringat; teringat sebuah pesan singkat yang pernah terbaca oleh matanya, sekitar satu bulan lalu, sebuah nada pesan yang sudah kesekian kalinya ia baca.

sebuah permintaan sederhana,
'berhenti menghubungiku. dengan cara apapun.'
cukup sederhana kan?

namun kenyataan yang dia terima tak se-sederhana itu. bahkan terlalu rumit untuknya sendiri mengurai apa yang ia rasakan. tidak cukup perkataan, tidak pula isak tangis atau bahkan amarah. tidak. bukan ke-semuanya. dia justru bingung; apakah yang harus saya lakukan? permintaan ini cukup membuatnya bimbang.
bukan, bukan karena dia tidak bisa memahami maksud pesan singkat itu. tapi kesalahan terbesarnya adalah membiarkan matanya membaca sekilas pesan singkat itu. hanya sekali pandang, menangkap kata-kata yang cukup ia kenal lalu menghapusnya. ya, tepat ketika deretan huruf terakhir mampu terbaca di buramnya genangan airmata di pelupuk penglihatannya. tanpa berniat membaca ulang dengan cermat dan hati-hati apa isi pesan itu. kok rasanya terlalu munafik ya? sudahlah. biarkan saja tetap sekilas terbaca.
hanya butuh tak sampai 5 menit, berkata dalam hati; untukmu, 1000 kali lagi pun iya.
jawaban senada seperti yang ada dalam penggalan buku 'The Kite Runner'. :)

10 kali, 100 kali, 1000 kali, berapa pun kau meminta hal yang sama, akan terjawab dengan jawaban yang tetap sama; "untukmu, 100 kali lagi pun iya" :)

*sepenggal cerita malam dari sebuah percakapan buku dan telepon selular*


No comments: