Kopi pertama pagi ini. Manis, terlalu cepat dingin. Seperti dua orang yg mulai saling kenal, lalu salah satu mundur di tengah jalan.
belum apa-apa sudah menyerah. Kira-kira seperti itulah makna sepenggal kutipan diatas. tapi bagi saya, lebih dari itu. Ketika satu waktu menemukan seseorang yang baru dalam hidup dan kemudian perlahan ia pun menjadi bagian dari hari-harimu dan makin hari ia makin melengkapi menit-menit yang ada. Nampak suatu proses yang biasa namun selalu ada cerita. Begitu pula dengan saya, ketika hal itu terjadi pada saya pun nampaknya bukanlah hal yang istimewa namun saya justru mendapat berjuta cerita dibaliknya. :)
Di awal bulan, ia adalah seorang teman bercerita yang sangat perhatian. Seluruh antusiasme yang ia punya ia curahkan sepenuhnya hanya demi sebait percakapan saya. Sungguh tak seorang sahabat pun yang betah melakukan itu kepada saya, tapi ia melakukannya. Bahkan di sisa-sia penghujung malam menjelang pagi, dikala yang lain sibuk terlelap bersama mimpi mereka, kami (saya dan dia) justru sibuk berbagi mimpi; mimpi sederhana yang selama ini hanya kita simpan dan bicarakan bersama Tuhan. Rencana-rencana sederhana yang pernah tersusun rapi dalam angan-angan kami, satu per satu meluncur bersama di genggaman tangan yang berbicara. Tak pernah saya se-semangat ini di pagi buta membahas mimpi-mimpi saya (dan dia) yang kiranya mustahil itu. Dia dengan mimpinya bersama Strato dan Lucille, dua gitar kesayangannya, saya dengan mimpi novelis dan travel agent-nya.
Namun tepat seperti apa kata kutipan diatas, '...dua orang yang mulai saling kenal, lalu salah satu mundur di tengah jalan', saya-lah pihak yang mengambil langkah ke belakang dan putar badan. Setelah beberapa malam terlewati bersama cerita-cerita dan berbagi mimpi, saya menyadari bahwa ada yang belum saatnya datang dan lebih baik tidak sebelum semuanya sudah terlalu panjang ceritanya.
Saya jatuh cinta.
Ya, se-sederhana itu alasan saya untuk memutuskan ingin balik kanan-bubar jalan. Aneh rasanya, ketika yakin akan datangnya sebuah perasaan, saya lebih ingin memilih mundur. Alasan saya cuma satu: saya tahu posisi saya dimana dan apa yang saya rasakan terlalu cepat untuk seorang teman berbagi yang sangat menyenangkan seperti dia. Sayang sekali jika harus kehilangan seorang teman berbagi sebaik dia hanya karena perkara 'jatuh cinta'.
2 bulan berlalu, semua masih samar dan terlalu dini, belum pantas untuk hal-hal yang terlalu sentimentil. kami masih menikmati suasana 'menerka-nerka' dan 'saling bermain penasaran'. itu lebih menyenangkan daripada buru-buru memastikan semua yang kadang kita sendiri belum yakin betul.Tapi sekali lagi, saya memberi keleluasaan bagi diri saya sendiri menikmati semuanya, mengikuti laju waktu dan merasakan apa yang sedang saya jalani...mungkin saja saya benar-benar pergi. atau mungkin saja tidak.
