Monday, May 16, 2011

Januari 2006

~tiba-tiba aku terhenyak dari tidur malam ku. aku sadar, diriku sepertinya berlari, menjauhi satu waktu yang terus mengejar tanpa henti. aku lelah terkejar. aku pun lelah mengejar. apapun rasa yang tercipta, aku hanya terdiam sedih... 
yang ku punya cuma airmata,tanpa harga hanya sia-sia.
terbuang hanya untuk yang tak pernah menghargaiku. apa maunya malam? menghentakku dengan ingatan - ingatan hitam tentang sakit hati?
~aku coba menyeka tiap butir yang terjatuh ke pipi. seperti melukis kembali cerita-cerita lalu tanpa ada arti. seolah mengisi kekosongan dalam lapangnya jiwa. terbersit, aku ingin hentikan saja. aku dipaksa lelah, digayuti sedih, mencoba memaksaku berdiri tegak di tengah badai. yang benar saja. sebentar lagi aku akan terjatuh, bukan,bukan! terhempas jauh. dan aku akan terluka.

~goresan luka itu akan bercerita padaku, betapa perihnya terjatuh, terhempas.betapa sakitnya terbuang sia-sia. seperti adanya aku lukai hatimu, pelan tapi pasti, menyakitkan. ribuan maaf takkan mampu mengurangi sakitnya. percuma meratap maaf, meminta ampun, tokh rasa ku masih sama. sakit.
~lama aku terdiam, diujung sepi malam terakhir, sebelum pagi menjelang.menghitung detik, menitik menit, merangkai jam yg berlalu. airmata telah mengering, tak bisa ku seka lagi. habis sudah masaku. tergulir lagi ke-ngeri-an akan rasa bersalah. berharap sirna di ujung pagi. tapi justru rasa ' ini' yg hadir kuat. ini memaku rasa ku, tanpa pengertian tentang apa yang akan ku lakukan, kemana jalanku?


Sapaku Untuk Alam

hai angin,
aku tiba di bumi menapak tanah
hirupi udara bebas illahi
sejuknya bumi ini.

hai matahari,
aku pandangi tengadah langitmu
warna kuning silau indah
hangatnya bumi ini.

hai air,
aku belai arus lembut sungai
membawa hanyut semua penat
segarnya bumi ini.

hai pepohonan,
aku pandangi kehijauan daun
cantiknya bila embun bertajuk
indahnya bumi ini.

hai tanah,
aku tapaki tiap jengkalmu
merasakan tiap langkah beratku
kuatnya bumi ini.

hai Sang Khalik,
terimakasih atas semua karunia ini
semoga Engkau tak pernah lelah
...jaga kami.


written; 201205

Serenade itu...

kutadahi percik hujan sore ini
ku bungkus dan kuberikan padamu
meski tak mengerti apa arti
ku hanya ingin kau menjaganya...

ku payungi terik matahari
ku bingkai panasnya yang terik
meski perih mencubit kulit
ku hanya ingin kau simpan hangatnya...

dingin...
angin sore meniup rambutmu
membisikkan senandung dedaunan
senyap bumi inginkan ramai
tapi malam sedang pelit.

written; 201205

2 Musim-ku

tanah depan rumah telah basah
bau segar menyeruak hidung
daun-daun hijau berujung basah
...ini habis hujan, sayang~

debu jalan berterbangan tinggi
terik matahari mencubit kulit
peluh basah hujani tubuh
... siang ini sungguh terik,kasih~

written; 181205