ketika dihadapakan pada banyak pilihan yang menarik, kita cenderung ingin mengambil bagian sebanyak mungkin yang kita bisa. padahal kemampuan kita belum tentu sanggup menghadapi semuanya.
saya sendiri pun begitu, tidak munafik. siapa sih yang mau melewatkan kesempatan berharga yang mungkin tidak datang utk kedua kalinya? tapi apa iya ini yang kita butuhkan?
masa2 yang saya alami sekarang (dan mungkin juga beberapa teman saya dan sodara saya) ini banyak dipandang sebagai masa2 'sulit dan tidak nyaman' karena adanya perbedaan kegiatan yang familiar disebut 'bekerja'. saya belum bekerja, masih berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas saya,dan ini bukan perkara gampang. dengan basic pendidikan Antropologi Budaya lulusan universitas tertua di Indonesia, nama almamater saja gak cukup menjamin gampang dapet kerja. tapi semua berhak dapat kesempatan yang sama,bukan? begitu juga dengan saya (dan teman2 serta saudara2 saya).
menganggur. jadi pengangguran. itu label yang diberikan kepada saya oleh mereka yg telah 'bekerja' atau memiliki kegiatan rutin berpenghasilan. saya sendiri kurang suka dikata pengangguran, karena saya tidak pernah benar2 nganggur,kok. otak saya tetap 'bekerja', mulut, telinga, kaki tangan saya, semuanya masih 'bekerja' dan tidak diam. Saya masih aktif baca koran, update berita2, belajar psikotes+TPA (hehe :p), kayanya kurang pas kalo dikata 'nganggur', bilang saja 'belum bisa menghasilkan uang'. simple kan? Tuna karya? ah, engga juga. saya masih bisa kok suruh bikin kerajinan tangan, masak kue, ngetik modul, dsb. Itu juga karya kan? hmm...so, apa yang salah dengan NGANGGUR?
one case, ada cerita dari sepupu saya, salah seorang sodaranya (sebut aja namanya M,dy laki-laki) yang (katanya) stress karena nganggur sekin lama ga dapet2 kerja. Sampe2 suka ngelamun di depan rumah dgn tatapan kosong, keluarganya mikirnya si M ini 'sakit' dan mau dibawa berobat ke orang pinter (???). saya pun nanya;
so, saya menikmati semua proses yang saya jalani saat ini, kalo kata sahabat saya, "ini cuma masalah waktu saja..." dan everything must keep goin' on. Ga ada kata minder atau menyerah apalagi capek untuk proses yang satu ini, selama masih ada rejeki kesehatan, mari kita jalani saja semuanya semampu kita. bagi mereka yang sanksi dgn 'status' dan 'kegiatan' kita saat ini, they just see the result but never see the process, kita yang lebih tau diri kita, bukan oranglain. why so worry?? :D
saya sendiri pun begitu, tidak munafik. siapa sih yang mau melewatkan kesempatan berharga yang mungkin tidak datang utk kedua kalinya? tapi apa iya ini yang kita butuhkan?
masa2 yang saya alami sekarang (dan mungkin juga beberapa teman saya dan sodara saya) ini banyak dipandang sebagai masa2 'sulit dan tidak nyaman' karena adanya perbedaan kegiatan yang familiar disebut 'bekerja'. saya belum bekerja, masih berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas saya,dan ini bukan perkara gampang. dengan basic pendidikan Antropologi Budaya lulusan universitas tertua di Indonesia, nama almamater saja gak cukup menjamin gampang dapet kerja. tapi semua berhak dapat kesempatan yang sama,bukan? begitu juga dengan saya (dan teman2 serta saudara2 saya).
menganggur. jadi pengangguran. itu label yang diberikan kepada saya oleh mereka yg telah 'bekerja' atau memiliki kegiatan rutin berpenghasilan. saya sendiri kurang suka dikata pengangguran, karena saya tidak pernah benar2 nganggur,kok. otak saya tetap 'bekerja', mulut, telinga, kaki tangan saya, semuanya masih 'bekerja' dan tidak diam. Saya masih aktif baca koran, update berita2, belajar psikotes+TPA (hehe :p), kayanya kurang pas kalo dikata 'nganggur', bilang saja 'belum bisa menghasilkan uang'. simple kan? Tuna karya? ah, engga juga. saya masih bisa kok suruh bikin kerajinan tangan, masak kue, ngetik modul, dsb. Itu juga karya kan? hmm...so, apa yang salah dengan NGANGGUR?
one case, ada cerita dari sepupu saya, salah seorang sodaranya (sebut aja namanya M,dy laki-laki) yang (katanya) stress karena nganggur sekin lama ga dapet2 kerja. Sampe2 suka ngelamun di depan rumah dgn tatapan kosong, keluarganya mikirnya si M ini 'sakit' dan mau dibawa berobat ke orang pinter (???). saya pun nanya;
"memang sdh berapa lama dia nganggur?"tiba2 saya inget kata teman saya yang selaluuuuu ngomel2 setiap tahu saya pulang kampung ke rumah,
"udah bertahun2,mbak. ada juga 4 tahun lebih" jawab sepupu saya.
"emangnya sama sekali ga dapet kerja? apa ga nyoba cari dmn gtu?" tanya saya lagi,
"udah smp bosen kali dy,nyari ga dapet2. mana lulusan universitas tak terdengar (istilah spupu saya utk nyebut universitas swasta dikotanya yg jarang terdengar namanya)"
"walah, kok gtu ya? kenapa ga coba cari lagi?"
"udah ga ada temen nyari kerja,mbak. jd udh ga semangat lagi,mungkin..." jawab sepupu saya singkat.
....................................................................
"lin,lin, wong kok mulah mulih wae ki neng ngomah yo ngopo?? mbok wes neng kene wae, akeh kancane golek gawean, ben semangat... (lin,lin, orang kok suka banget pulang dirumah kamu juga ngapain? udah dsini /dijogja aja,byk temennya kalo cari kerja,biar semangat)"temen saya ini mungkin mau menyelamatkan saya dari kejadian serupa dgn si M itu, memang sih kalo terlalu banyak sendiri jadinya sering bengong dan kosong,eh trus mikir macem2, salah-salah bisa kesambet yang bukan-bukan (oh,no!!). dengan adanya teman 'seperjuangan' rasa/semangat kita pastinya berbeda. Ada temen berbagi, cerita2 dan bertanya soal tes/interview/bikin berkas2 lamaran. saya sendiri juga begitu, mengingat temen saya yg senasib juga cukup banyak, saya berusaha selalu berbagi info sekecil apapun. bahkan info lamaran kerjaan pun,meskipun nambah2in saingan tapi rejeki seseorang siapa yang tahu? biarpun kita bisa saja egois, ada lowongan ya diambil sendiri, ga perlu ksh tau siapa2 tar malah nambah2in pesaing, tapi saya gamau ky gtu. Allah selalu adil membagi rejekiNya, tidak terkecuali. lha kenapa kita malah pelit begitu? Insya allah, berbuat baik utk kebaikan bersama ga ada ruginya kok. :)
so, saya menikmati semua proses yang saya jalani saat ini, kalo kata sahabat saya, "ini cuma masalah waktu saja..." dan everything must keep goin' on. Ga ada kata minder atau menyerah apalagi capek untuk proses yang satu ini, selama masih ada rejeki kesehatan, mari kita jalani saja semuanya semampu kita. bagi mereka yang sanksi dgn 'status' dan 'kegiatan' kita saat ini, they just see the result but never see the process, kita yang lebih tau diri kita, bukan oranglain. why so worry?? :D
No comments:
Post a Comment